Investor Asing Mulai Caplok Saham Jalan Tol di Indonesia - Jurnalmuslim.com

Advertisement

Investor Asing Mulai Caplok Saham Jalan Tol di Indonesia

Jumat, 11 Oktober 2019
Investor Asing Mulai Caplok Saham Jalan Tol di Indonesia

Jurnalmuslim.com - Sejumlah ruas jalan tol di Indonesia terus diincar oleh investor asing, terutama ruas tol yang terletak di Pulau Jawa. Sebab tingkat pengembalian investasi ruas tol di Pulau Jawa dinilai menarik.
Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR, Danang Parikesit, menyampaikan bahwa tak ada aturan yang melarang badan usaha menjual saham ruas tolnya ke asing.

"Sejauh ini kan enggak ada daftar negatif investasi untuk asing di jalan tol‎,” ucapnya kepada kumparan, Jumat (11/10).

Dia menegaskan jika badan usaha dalam negeri menjual sahamnya ke asing, pihaknya hanya akan mengecek kesehatan perusahaan yang berminat. Jika memang keuangannya tak sehat, pihaknya baru melarang.

"Kan di dalam proses itu, ada kapasitas finansial perusahaan, contohnya menggunakan indikator EBITDA. Itu kita teliti, jangan sampai yang masuk yang abal-abal," tegas Danang.
Berikut fakta mengenai investor asing caplok saham ruas tol Indonesia yang dirangkum kumparan, Jumat (11/10).

Hong Kong Beli Saham Tol Milik Waskita Toll Road

Akhir bulan lalu, perusahaan asal Hong Kong, Road King Infrastructure Ltd telah menandatangani perjanjian jual beli bersyarat terkait divestasi saham PT Waskita Toll Road (WTR) pada 2 ruas tol Trans Jawa.

Road King Infrastructure Ltd membeli masing-masing 40 persen saham WTR di PT Jasamarga Solo-Ngawi (JSN) dan PT Jasamarga Ngawi-Kertosono-Kediri (JNKK). Adapun uang muka yang digelontorkan perusahaan Hong Kong itu ke WTR sebesar Rp 1,88 triliun.

“Rp 1,32 triliun untuk uang muka JSN dan Rp 562 miliar untuk JNKK," ungkap Co Chairman Road King Ltd, Zen Wei Pao William berdasarkan keterangan tertulis, Kamis (3/9).

Kanada Beli Saham Tol Cipali

Canada Pensiun Plan Investment Board (CPPIB) dan PT Bhaskara Utama Sedaya (BUS) tengah dalam proses mencaplok 55 persen saham jalan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) dari perusahaan asal Malaysia, PLUS Expressway International Bhd.

Adapun BUS merupakan anak usaha PT Astra Tol Nusantara atau Astra Infra. Dalam akuisisi ini, CPPIB mengakuisisi 45 persen saham Tol Cipali, sementara anak usaha Astra Infra mengakuisisi 10 persen saham sisanya.

"Kami senang berinvestasi di Tol Cipali bersama Astra Infra, dan berharap dapat menjalin hubungan jangka panjang yang baik," ucap ‎Managing Director CPPIB, Scott Lawrence berdasarkan keterangan tertulis, Jumat (20/9).

Saat ini Tol Cipali‎ yang memiliki panjang 117 km ini dikelola oleh konsorsium PT Lintas Marga Sedaya (LMS). Sebelumnya, 55 persen saham LMS dikuasai oleh PLUS Expressway International Bhd, sedangkan 45 persen sisanya dikuasai oleh PT BUS.

‎Menurut Scott, transaksi pencaplokan saham ini ditargetkan dapat selesai pada kuartal IV 2019, tergantung pada syarat dan ketentuan yang disepakati antar kedua belah pihak, serta persetujuan dari pemerintah.

Dia menambahkan, CPPIB tertarik mengakuisisi saham Tol Cipali yakni dikarenakan tol itu dipandang merupakan simpul penting dalam jaringan jalan Tol Trans Jawa, di mana tingkat pertumbuhan penggunanya begitu pesat.

"Sebagai investasi infrastruktur CPPIB pertama di Indonesia, ini memperdalam komitmen CPPIB di kawasan Asia-Pasifik dan fokus kami di pasar baru dengan pengembalian yang menarik," imbuh Kepala Asia-Pasifik CPPIB, Suyi Kim.

China Minat, Tapi Tak Lolos

Sebanyak 2 konsorsium perusahaan China, yakni Konsorsium China Harbour Indonesia dan Konsorsium Sinohydro Corporation Limited, berminat dalam pembangunan infrastruktur jalan tol di Indonesia.

Hal itu terlihat dalam lelang proyek Tol Semarang-Demak sepanjang 27 kilometer (km) yang juga menjadi tanggul laut, kedua konsorsium itu turut mendaftar. Namun sayang, kedua konsorsium tersebut tak lolos.

"Yang asing enggak masuk," kata Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Kementerian PUPR, Danang Parikesit saat ditemui di Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta, Rabu (13/3).
Adapun pemenang lelang ruas tol itu ialah konsorsium BUMN PT PP, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, dan PT Misi Mulia Metrical. Konsorsium ini membentuk perusahaan dengan nama PT Pembangunan Perumahan Semarang Demak. Saat ini proses pembangunan telah berjalan. kumparan.com


loading...