Dipenjara Tujuh Tahun karena Punya Tujuh Anak: Kisah Abdushukur Umar, Warga Uighur di Xinjiang China - Jurnalmuslim.com -->

Advertisement

Dipenjara Tujuh Tahun karena Punya Tujuh Anak: Kisah Abdushukur Umar, Warga Uighur di Xinjiang China

Minggu, 27 September 2020
Dipenjara Tujuh Tahun karena Punya Tujuh Anak: Kisah Abdushukur Umar, Warga Uighur di Xinjiang China

Jurnalmuslim.com - Abdushukur Umar, seorang pria warga Uighur menceritakan kisahnya mendapat hukuman otoritas China akibat memiliki banyak anak.


Mantan supir traktor ini dihukum tujuh tahun penjara lantaran memiliki tujuh anak.

Pria yang pernah menjadi penjual buah-buahan ini menganggap ketujuh anaknya sebagai rezeki dari Tuhan.

Alasan ini tak bisa diterima di bawah payung hukum China.

Pihak berwenang mulai mengejarnya sejak 2016 dan berhasil ditangkap.

Tahun 2017, ia dijebloskan ke kamp sebelum akhirnya dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara -satu untuk setiap anak, kata pihak berwenang kepada kerabatnya.

"Sepupu saya menghabiskan seluruh waktunya mengurus keluarga, ia tak pernah bergabung dalam gerakan politik apa pun," kata Zuhra Sultan, sepupu Umar kepada AP di tempat pengasingannya di Turki.

"Bisa-bisanya kamu dihukum tujuh tahun hanya karena punya banyak anak, kita sudah hidup di abad ke-21, ini benar-benar tak bisa dibayangkan," katanya.

Setidaknya enam belas orang etnis Uighur dan Kazakhstan mengutarakan kesaksiannya kepada AP, bahwa orang-orang dipenjara akibat punya banyak anak.

Banyak yang dipenjara bertahun-tahun bahkan puluhan tahun di penjara, menurut sejumlah warga Uighur.

Data eksklusif yang diperolah AP menunjukkan dari 484 tahanan di Karakax, Xinjiang, 149 narapidana dijebloskan ke penjara karena memiliki banyak anak, sebuah alasan umum untuk menahan mereka.

Dipaksa Pasang IUD

Berbeda dari kisah Umar, seorang warga Uighur keturunan China-Kazakhstan menceritakan pengalamannya bagaimana otoritas China di Xinjiang memaksanya untuk menggunakan alat kontrasepsi beserta ancaman kurungan jika menolak.

Gulnar Omirzakh mengaku disuruh pejabat setempat memasang alat kontrasepsi dalam rahim (IUD), seperti dilasir dari Investigasi Associated Press yang dirilis Selasa (30/6/2020).

Omirzakh merupakan perempuan dari keluarga tak mampu yang merupakan istri dari seorang pedagang sayur.

Pada 2018, ia mengaku pernah didatangi empat orang pejabat yang mengenakan seragam militer.

Keempat pria ini mengetuk pintu rumahnya dan menjatuhkan denda $2685 atau sekitar 38,9 juta rupiah (kurs 2018).

Denda ini dijatuhkan lantaran ia memiliki lebih dari dua anak.

Jika tidak membayar, mereka mengancam akan mengurungnya dan akan bergabung dengan suami serta jutaan etnis minoritas lainnya yang dikurung di kamp-kamp pengasingan.

"Tuhan mewariskan anak-anak kepadamu. Mencegah orang memiliki anak adalah salah," kata Omirzakh, sambil menangis mengingat kejadian yang ia alami di masa lalu.

"Mereka ingin menghancurkan kita sebagai manusia," tambahnya.

Omirzakh merupakan satu di antara warga Muslim pedesaan yang 'cukup beruntung'.

Dirinya mengaku beruntung bisa membayar denda tersebut, .

Setelah ancaman kurungan penjara datang padanya, ia menelepon sejumlah kerabatnya.

Beberapa jam sebelum batas waktu yang ditentukan, ia telah mengumpulkan cukup banyak uang dari hasil penjualan sapi saudara perempuannya.

Ia juga meminjam uang dengan bunga yang tinggi untuk menggenapi tabungannya agar cukup untuk denda.

Pada tahun berikutnya, setelah denda terbayarkan, ia bersama sejumlah istri orang lain yang senasib mengikuti sebuah kelas pendidikan.

Ia bersama anaknya untuk sementara tinggal bersama dua orang pejabat partai setempat yang dikirim khusus untuk mengawasinya.

Ketika sang suami pada akhirnya dibebaskan, mereka melarikan diri ke Kazakhstan dengan hanya membawa beberapa ikat selimut dan pakaian.

Di tempat tinggalnya sekarang, alat kontrasepsi dalam rahim (IUD) masih berada di rahimnya dan telah menyatu dengan daging.

Wanita Uighur menggendong bayi, Jumat (31/5/2019).
Ilustrasi. Wanita Uighur menggendong bayi, Jumat (31/5/2019). (AFP/Greg Baker)
Ini menyebabkan peradangan yang sakitnya menusuk hingga ke punggung.

"Seperti ditusuk dengan pisau," akui Omirzakh.

Menurutnya, hanya sakit yang ia rasakan saat harus mengingat apa yang ia alami dulu.

"Orang-orang di sana sekarang takut melahirkan," katanya.

"Ketika aku memikirkan kata 'Xinjiang', aku masih merasa takut sampai saat ini," tukasnya kepada Associated Press..

Investigasi Ungkap China Paksa Aborsi Warga Uighur

Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan otoritas China memaksa perempuan menggunakan alat kontrasepsi di Xinjiang sebagai upaya pengurangan populasi masyarakat muslim Uighur.

Usaha sistematis 'sterilisasi perempuan', menurut laporan Adrian Zenz, antropolog Jerman yang risetnya fokus pada persoalan kamp di Xinjiang, juga menyebut China memaksa warga Uighur untuk aborsi.

Penelitian Adrian mendorong munculnya seruan internasional di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar dilakukan penyelidikan.

Adapun China membantah tuduhan tersebut dalam sebuah pernyataan.

China menyebut apa yang dituduhkan adalah hal yang tidak berdasar.

Sebagai informasi, China sedang dihadapkan pada kritik luas lantaran dinilai menahan warga Uighur di kamp-kamp penampungan.

Diwartakan BBC, setidaknya terdapat satu juta masyarakat Uighur dan minoritas muslim lainnya yang ditahan di China, Senin (29/6/2020).

Oleh otoritas China, kamp tempat warga Uighur ditahan merupakan kamp 'pendidikan ulang'.

Sebelumnya Tiongkok sempat menyangkal adanya kamp-kamp ini, sebelum kemudian menyebut kamp ini sebagai pertahanan melawan terorisme.

Otoritas mengklaim langkah ini dilakukan buntut dari kekerasan separatis di wilayah Xinjiang.

Sekretaris Kabinet Amerika Serikat, Mike Pompeo menyerukan China "segera mengakhiri praktik mengerikan ini"

Dalam sebuah pernyataan, Pompeo mendesak "semua negara untuk bergabung dengan Amerika Serikat dalam menuntut diakhirinya pelanggaran tidak manusiawi ini"

Tuduhan ini membuat China mendapat pengawasan dari publik internasional.

Penyelidikan BBC tahun 2019 menunjukkan anak-anak di Xinjiang secara sistematis dipisahkan dari keluarga dalam upaya mengisolasi mereka dari lingkungan muslim.

Seperti apa laporan Adrian Zenz?

Penelitian Adrian didasarkan atas pengumpulan data resmi di tingkat regional.

Adrian juga memakai sejumlah dokumen kebijakan serta wawancara dengan perempuan etnis minoritas di Xinjiang.

Laporannya menyebut bahwa perempuan Uighur dan etnis minoritas lain diancam akan ditahan jika menolak membatalkan kehamilan yang melebihi angka kelahiran yang telah ditetapkan.

Bagi perempuan yang memiliki anak tidak lebih dari dua, maka diharuskan secara sukarela untuk memasang alat kontrasepsi dalam rahim.

Selain itu, laporan ini menyebut adanya pemaksaan kepada perempuan untuk menerima 'operasi sterilisasi' alias pemaksaan aborsi.

Kemudian, terdapat laporan yang menyebut sejumlah mantan tahanan kamp-kamp diberikan suntikan yang menghentikan menstruasi mereka.

Selanjutnya, sejumlah mantan tahanan mengaku dirinya mengalami pendarahan hebat akibat efek obat-obatan pengontrol kelahiran, tertulis dalam laporan tersebut.

"Semenjak kebijakan keras ini dimulai akhir 2016, Xinjiang berubah menjadi wilayah yang kejam, campur tangan negara atas otonomi reproduksi telah ada di mana mana," kata laporan itu.

Berdasarkan analisa data, laporan ini menyebut adanya penurunan pertumbuhan populasi di wilayah Xinjiang dalam beberapa tahun terakhir.

Tingkat pertumbuah turun 84% di dua prefektur tempat tinggal mayoritas etnis Uighur pada kurun waktu 2015 dan 2018.

Sementara tahun 2019 disebut menurun lebih jauh lagi.

"Penurunan semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya, (jelas) ada kekejaman di situ," kata Adrian Zenz kepada Associated Press.

"Ini merupakan bagian dari strategi kontrol menaklukan (etnis) Uighur,"

"Secara keseluruhan, dimungkinkan pihak berwenang Xinjiang terlibat dalam sterilisasi massal perempuan yang memiliki tiga anak atau lebih," ungkap laporan ini.

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)

loading...