Cerita Yasmin, Rumah-rumah Diserang & Masjid Dibakar di New Delhi: Kami Diserang Karena Kami Muslim - Jurnalmuslim.com

Advertisement

Cerita Yasmin, Rumah-rumah Diserang & Masjid Dibakar di New Delhi: Kami Diserang Karena Kami Muslim

Jumat, 28 Februari 2020
Cerita Yasmin, Rumah-rumah Diserang & Masjid Dibakar di New Delhi: Kami Diserang Karena Kami Muslim

Jurnalmuslim.com - YASMIN (35) tak henti meneteskan air mata saat menunggu jasad saudara sepupunya di ruang tunggu kamar mayat RS Guru Teg Bahadur, New Delhi, Jumat (28/2/2020).

Dilansir Financial Times, sambil menunggu jenazah saudaranya itu, ibu tiga anak tersebut terus berzikir sambil memegang tasbihnya yang berwarna biru dan putih

Saudara sepupu Yasmin bernama Mehtab (22). Ia adalah seorang pekerja konstruksi yang menjadi korban Kerusuhan di India.

Mereka tinggal di lingkungan slum di kawasan pinggiran New Delhi sudah berbelas-belas tahun.

Selam itu pula, mereka hidup berdampingan dengan warga beragama Hindu dengan harmonis.

Namun, pada Selasa (25/2) malam, Mehtab keluar rumah untuk membeli susu bagi anak Yasmin. Sejak itu pula, Mehtab tak pernah kembali.

Ia diangkut oleh perusuh yang menggunakan pentungan, dan beberapa jam kemudian, Mehtab ditemukan sudah tewas di pinggiran jalan.

Tubuhnya memar dan terbakar.

Saat peristiwa itu, Yasmin dan suaminya tertahan di rumah mereka. Ketika, kelompok radikal Hindu mengancam akan membakar toko-toko dan tempat tinggal milik Muslim di kawasan itu.

"Orang-orang meneriakkan slogan-slogan Jai Shri Ram ['Salam Ram Ramuan] dan mengatakan' tinggalkan rumah ini - kita akan membakarnya," kata Yasmin, suaranya bergetar dengan emosi.

“Ini adalah pertama kalinya saya melihat konflik seperti itu. Kami selalu menganggap Hindu sebagai saudara kami. [Mehtab] dibunuh karena ia seorang Muslim. Kami diserang karena kami Muslim. ”

Mehtab, adalah satu dari sedikitnya 35 orang yang terbunuh, dengan 200 lainnya terluka parah, di New Delhi minggu ini.

Itu adalah bentrokan sektarian terburuk di sebuah kota besar di India sejak tahun 2002 pasca lebih dari 1.000 orang, terutama Muslim, terbunuh dalam kerusuhan di Gujarat.

Bekas kerusuhan dan penyerangan di ibu kota India itu sendiri tampak meninggalkan petak-petak kota itu tampak seperti zona perang.

Masjid-masjid terbakar, toko-toko dan bangunan-bangunan hancur, pecahan kaca berserakan di jalanan dan puluhan kendaraan hangus.

Puing sebuah mobil yang terbakar akibat kerusuhan sektarian di Kota New Delhi, India, Jumat (20/2/2020)
Puing sebuah mobil yang terbakar akibat kerusuhan sektarian di Kota New Delhi, India, Jumat (20/2/2020) (Money SHARMA / AFP)
"Ketegangan terus-menerus antara mayoritas Hindu India dan minoritas Muslimnya makin menjadi-jadi sejak Perdana Menteri Narendra Modi dari partai konservatif Hindu Bharatiya Janata Party berkuasa," demikian analisis dari Gilles Verniers, profesor ilmu politik di Universitas Ashoka, India.

Ketegangan sektarian itu sendiri terus meningkat sejak Desember 2018 silam.

Saat itu, pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi mengamandemen undang-undang kewarganegaraan negara itu.

Dalam undang-undang itu, warga asing yang dipermudah untuk mendapatkan naturalisasi di India, kecuali bagi mereka yang beragam Islam.

"Mereka telah melepaskan kekuatan yang tidak dapat sepenuhnya dikendalikan," kata Ashutosh Varshney, seorang profesor ilmu politik di Brown University.

“Aparat hukum di negara itu dipenuhi dengan semangat ideologis yang telah memprovokasi mereka bawah nasionalisme Hindu adalah nasionalisme yang melihat Muslim sebagai musuh India. "

Puncak kekerasan di New Delhi makin meluas setelah Kapil Mishra, seorang pemimpin di Bharatiya Janata Party, mengancam Muslim yang memblokir jalan dalam protes damai terhadap hukum kewarganegaraan.

Kapil Mishra kepada orang-orang Hindu sayap kanan, memperingatkan bahwa jika para pengunjuk rasa tidak pergi pada saat kunjungan Trump selesai, mereka akan mengambil masalah ke tangan mereka sendiri.

Tak lama setelah itu, kata saksi, kelompok-kelompok Hindu dan Muslim mulai saling melempari batu.

Pada hari Senin (24/2), daerah-daerah besar berada dalam cengkeraman kerusuhan skala penuh, dengan gerombolan orang Hindu, membawa senjata api, bom bensin dan batang besi, merampok melalui jalan-jalan yang padat di daerah itu.

Kemudian, mereka mulai menyerang orang yang lewat dan membakar properti yang mereka curigai sebagai milik orang Islam.

Masjid dibakar dan dipasang bendera Hanoman

Masjid Dibakar di pusat Kota New Delhi, Masjid bernama Masjid Badi itu kini luluh lantak. Bangunan ibadah itu  dirusak oleh kelompok ekstrimis Hindu dalam kerusuhan yang terjadi Rabu (26/2/2020) malam.

Bagian dalam Masjid Dibakar oleh dan beberapa perangkat ibadah diunggun oleh kelompok radikal tersebut.

Tak hanya itu, bendera Hanoman juga dipasang di puncak menara Masjid Badi yang nyaris hancur tersebut.

Dalam video yang ditayangkan oleh akun youtube The Guardian, pada Kamis (27/2/2020) tampak jelas beberapa orang pria menaiki menara Masjid dan kemudian memasang bendera Hanoman :


Sementara itu dilansir Aljazeera.com , Kamis (27/2/2020) aksi kelompok radikal tersebut tak menyerang rumah ibadah.

Namun juga menyiksa beberapa orang yang diduga merupakan warga beragama muslim.

Sementara itu, dalam video yang dirilis oleh Aljazeera tampak asap hitam mengepul di beberapa titik di pusat kota New Delhi. Sejumlah bangunan dan rumah penduduk dibakar .

Api juga mengepul di sebuah pom bensin yang terbakar.

Berikut Video yang ditayangkan di situs berita Aljazeera.com pada Kamis (27/2/2020) :


Aljazeera juga melaporkan, setidaknya 25 orang telah tewas dan ratusan lainnya luka-luka dalam kekerasan di ibukota India, New Delhi tersebut.

Aksi kekerasan itu sendiri sudah berlangsung sejak hari Minggu (23/2/2020) .

Aksi itu sendiri terjadi setelah diluncurkan produk undang-undang tentang kewarganegaraan oleh Parlemen India.

Salah satu materi undang-undang itu adalah proses naturalisasi bagi warga asing untuk menjadi warga India, kecuali bagi mereka yang beragama Islam.

Undang-undang yang bertendensi diskriminatif tersebut memicu aksi dari kelompok muslim.

Namun, aksi mereka justru diserang oleh kelompok radikal Hindu.

Tak hanya itu di dalam video yang beredar di media sosial, aparat kemanan juga melakukan tindakan represif terhadap kaum minoritas Islam,

Seperti yang dilansir oleh akun instagram @smile_is_a_charity  di bawah ini :


Memuncaknya kerusuhan di India tersebut, Perdana Menteri India Narendra Modi menyerukan agar seluruh elemen masyarakat untuk dapat mengendalikan diri.

Seruan dari Narendra Modi itu mendapat kritikan pedas dari Sonia Gandhi, presiden partai oposisi di parlemen.

Ia menyerukan pengunduran diri Narendra Modi dan Menteri Dalam Negeri Amit Shah, yang secara langsung bertanggung jawab atas hukum dan ketertiban di New Delhi.

Sementara itu, Sunil Kumar, Direktur Rumah Sakit Guru Teg Bahadur (GTB), tempat korban-korban luka dan tewas ditangani

mengatakan kepada kantor berita AFP, saat ini hampir 60 orang mengalami luka tembak.

Elizabeth Puranam wartawan dari Al Jazeera, melaporkan dari New Delhi bahwa, dalam empat hari aparat keamanan di New Delhi sepertinya membiarkan aksi anarkis dan penyerangan terhadap kaum minoritas muslim tersebut

"Delhi memiliki pasukan polisi 84.000. Saya percayakekerasan ini sengaja dibiarkan berlanjut," katanya.

Selain UU Kewarganegaraan, pertikaian antara umat Muslim dan Hindu di India juga kerap dipicu masalah konsumsi sapi.

Umat Muslim menganggap sapi adalah hewan yang halal untuk dikonsumsi.

Sedangkan umat Hindu menganut ajaran vegetarian karena tidak memakan bahan makanan dari sumber yang bernyawa.

Di mata umat Hindu, sapi adalah simbol kehidupan dan kekuatan yang harus dilindungi.

Dalam kitab Weda, sapi disebut sebagai titisan Aditi yang merupakan ibu dari seluruh dewa.

Sejumlah negara bagian di India melarang perdagangan, penyembelihan dan konsumsi daging sapi.

Kelompok konservatif di India mendesak Modi mengesahkan aturan yang melarang penyembelihan sapi. medan.tribunnews.com

loading...