Covid-19: Jumlah Kasus Lampaui China, Indonesia 'Berpotensi Jadi Episentrum' Di Asia - Jurnalmuslim.com

Advertisement

Covid-19: Jumlah Kasus Lampaui China, Indonesia 'Berpotensi Jadi Episentrum' Di Asia

Selasa, 21 Juli 2020
Covid-19: Jumlah Kasus Lampaui China, Indonesia 'Berpotensi Jadi Episentrum' Di Asia

Tren peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia dengan jumlah kasus yang kini sudah melampaui China, negara tempat pandemi virus corona bermula, membuat Indonesia 'dituduh' berpotensi menjadi episentrum Covid-19 di Asia.

Pemerintah Indonesia sendiri dalam dilema antara pemulihan ekonomi dan kasus yang terus meningkat.

Hingga Senin (20/07) jumlah kasus Covid-19 di Indonesia mencapai 88.214 kasus, dengan penambahan kasus selama dua hari terakhir di atas 1.600 kasus baru, di tengah pelonggaran yang dilakukan pemerintah sejak bulan Juni silam.

Pakar ilmu epidemiologi dan pakar permodelan matematika menyebut tren peningkatan kasus akan terus terjadi, dengan pandemi diperkirakan akan terus berlangsung hingga setidaknya tahun depan.

Kepala Pusat Permodelan Matematika dan Simulasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Nuning Nuraini, memperkirakan "mendekati akhir tahun ada pola penurunan saja kita sudah cukup happy".

Indonesia 'kritis' virus corona: Target uji PCR jauh dari standar minimum di tengah penyebaran yang tinggi
Kapan puncak pandemi Covid-19 di Indonesia akan terjadi setelah penerapan 'new normal'?
Istilah ODP-PDP diganti: Setidaknya 3.800 orang meninggal dengan gejala virus corona belum tercatat di sistem baru
Sementara ahli ilmu epidemiologi dari Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono, menyebut Indonesia masih "tertatih-tatih" menangani pandemi sebab respons pemerintah yang tidak terorganisir sejak awal.

"Kita memiliki skenario yang lebih buruk dan itu akan menyedihkan sekali, mungkin dua tiga tahun akan seperti ini. Bukan hanya tahun ini, tapi tahun depan juga akan bermasalah. Tahun depannya lagi masih bermasalah, kalau tidak ada perubahan strategi," ujar Pandu Riono kepada BBC News Indonesia, Senin (20/07).

Sayangnya, kata dia, kebijakan pemerintah dalam mengatasi pandemi cenderung mementingkan kepentingan ekonomi ketimbang penanganan pandemi.

"Harusnya pandemi kita atasi dulu, ekonomi bisa pulih. Kalau nggak, dua-duanya jebol. Pandeminya nggak bisa teratasi, ekonominya juga akan semakin sulit dipulihkan," imbuhnya.

Namun, Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto memastikan penanganan pandemi dan pemulihan ekonomi "berjalan beriringan", seiring akan dibentuknya tim terpadu penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi yang melesu ditengah pandemi.

Penambahan kasus berasal dari aktivitas perkantoran
Juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, menjelaskan dalam sepekan terakhir, penambahan kasus terkonfirmasi lebih banyak berasal dari aktivitas perkantoran.

Usai pelonggaran pembatasan, aktivitas kerja yang sebelumnya dilaksanakan dari rumah kini mulai dilakukan di kantor.

"Gambaran penambahan kasus ini adalah gambaran dari aktivitas produktif yang semakin tinggi namun tidak mematuhi protokol kesehatan, menjaga jarak, menggunakan masker dengan baik dan benar, serta mencuci tangan," ujar Yuri.

Ketidakpatuhan masyarakat, minimnya pengetesan dan jumlah penduduk Indonesia yang besar, membuat Indonesia disebut-sebut berpotensi menjadi episentrum baru, menurut Kepala Pusat Permodelan Matematika dan Simulasi Institut Teknologi Bandung, Nuning Nuraini.

"Kenapa Indonesia "dituduh" menjadi episentrum baru karena jumlah penduduknya besar dan ketaatan penduduk terhadap suatu aturan seperti itu. Bisa jadi itu berpotensi menjadi makin menyebar, dengan dibukanya berbagai fasilitas dan sulitnya monitoring," jelas Nuning.

Ditambah lagi, pengetesan yang dilakukan Indonesia disebutnya "belum memenuhi standar yang diminta oleh WHO".

Merujuk pada jumlah penduduk Indonesia, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberi acuan jumlah minimal tes Indonesia adalah 54.000 orang per hari.

Pandemi Covid-19SUMBER GAMBAR,AFRIADI HIKMAL/GETTY
Keterangan gambar,
Indonesia mengikuti panduan WHO mengenai klasifikasi Covid-19, empat bulan setelah penetapan pandemi.

Adapun berdasar data per Senin (20/07), jumlah orang yang diperiksa sebanyak 13.259 orang, dengan jumlah spesimen yang selesai diperiksa 14.027, jauh dibawah jumlah spesimen yang diperiksa sehari sebelumnya, sebanyak 20.504 spesimen.

Secara keseluruhan, Indonesia telah memeriksa 1.2351.545 spesimen, dengan jumlah kasus positif terkonfirmasi 88.214 kasus.

Angka tersebut melampaui China, negara di mana pandemi virus corona bermula, dengan jumlah kasus 85.314, merujuk data Johns Hopkins University per Senin (20/07).

BBC
'Peningkatan akan terus terjadi'
Kendati jumlah kasus Covid-19 Indonesia telah jauh melampaui China, akan tetapi tes yang dilakukan negara itu jauh lebih masif ketimbang Indonesia, mencapai lebih dari 90 juta orang.

Pakar epidemiologi, Pandu Riono, menuturkan jika pengetesan dilakukan secara masif jauh hari sebelumnya, bisa jadi kasus Covid-19 di Indonesia melampaui China beberapa waktu silam.

"Jadi peningkatan akan terus terjadi dan ini akan terus terjadi kalau testing ditingkatkan bukan tidak mungkin kita sudah melampaui China bukan sekarang, mungkin sudah beberapa waktu yang lalu," kata dia.

Sejumlah pengemudi ojek daring (ojol) mendaftar untuk mengikuti tes usap (swab test) di Terminal Poris Plawad, Kota Tangerang, Banten, Jumat (17/07).

Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Reisa Broto Asmoro mengaku total kumulatif konfirmasi kasus Covid-19 Indonesia sejak Sabtu lalu telah melampaui China, tempat virus corona pertama kali ditemukan akhir Desember 2019 lalu.

Namun begitu, dia mengatakan membandingkan pencapaian negara satu dengan negara lain, bukanlah "cara memerangi Covid-19" yang tepat.

"Data kasus tiap negara berubah cepat. Saat ini bisa jadi yang tertinggi, besok bisa sukses menghentikan penularan. Semua tergantung kerjasama komponen bangsa. Cara kita memerangi Covid-19 bukanlah dengan membandingkan angka-angka yang cepat berubah, bahkan bisa tidak valid lagi dalam hitungan jam dan hari," jelas Reisa.

"Cara terbaik adalah dengan tetap optimis dan bergotong royong," imbuhnya.

Mungkinkah Indonesia menjadi episentrum?
Peringatan bahwa Indonesia berpotensi menjadi pusat penyebaran atau episentrum virus corona disampaikan oleh ahli epidemiologi dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, di sejumlah publikasi.

Dia menyebut, India, Brasil, dan Indonesia memiliki potensi menjadi pusat wabah selanjutnya karena memiliki kerawanan tersendiri, mengingat tingginya kepadatan penduduk, faktor kesadaran penduduk terhadap pencegahan dan sistem kesehatan yang masih belum mapan.

Namun, Kepala Departemen Epidemiologi UI, Tri Yunis Miko Wahyono tidak sepakat dengan pendapat Indonesia bisa jadi pusat penyebaran virus, melainkan "negara dengan jumlah kasus terbanyak di Asia Tenggara".

"Dengan positivity rate sekarang sekitar 9%, kalau tes ditingkatkan pasti akan lebih banyak kasus ditemukan. Pasti lebih banyak," ujarnya pasti.

Positivity rate adalah perbandingan antara orang yang dinyatakan positif Covid-19 dengan jumlah tes yang dilakukan.

Merujuk data Worldometer, Indonesia berada di peringkat sembilan dalam daftar negara dengan kasus Covid-19 terbanyak di Asia. Peringkat pertama adalah India dengan lebih dari 3,4 juta kasus.

"Nggak mungkin India tersusul, paling mungkin kita jadi negara dengan jumlah terbanyak di Asia Tenggara," kata dia.

Dilema penanganan pandemi dan pemulihan ekonomi
Pandemi virus corona yang berlangsung enam bulan terakhir, selain mengancam kesehatan, juga melumpuhkan ekonomi sejumlah negara, termasuk negara besar dengan ekonomi kuat seperti Amerika Serikat, China, India, bahkan negara tetangga Singapura baru-baru ini mengalami resesi terburuk.

Ancaman serupa juga dihadapi Indonesia.

Dalam perkembangan terbaru, Presiden Joko Widodo baru saja menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) terkait penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional.

Menteri koordinator bidang perekonomian, Airlangga Hartarto menjelaskan berdasar PP tersebut, pemerintah akan membentuk satu tim untuk menangani Covid-19 dan memulihkan ekonomi, dibawah komando Menteri BUMN Erick Tohir.

"Tugasnya tentu melihat situasi perekonomian nasional perkembangan Covid-19 terkait dengan perkembangan dari segi ketersedian peralatan tes, maupun perkembangan vaksin dan anti-bodi dan juga program perekonomian yang sifatnya multiyears," jelas Airlangga.

"Jadi kita melihat recovery dari pandemi ini akan memakan waktu dan oleh karena itu bapak Presiden memberi penugasan agar tim sepenuhnya merencanakan dan mengeksekusi program agar penanganan Covid dan pemulihan ekonomi berjalan secara beriringan, dalam arti keduanya ditangani oleh kelembagaan yang sama dan koordinasi secara maksimal," imbuhnya.

Dalam PP tersebut pula disebutkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COvid-19 Daerah dibubarkan.

Pelaksanaan tugas dan fungsi gugus tugas, selanjutnya dilaksanakan oleh Komite Kebijakan dan Satuan Tugas Penanganan Covid-19.

Airlangga menjelaskan penanganan Covid-19 akan tetap ditangani oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Doni Monardo, sementara Satgas Perekonomian ditangani oleh Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin.

Nuning Nuraini dari ITB menyadari pemerintah punya kepentingan untuk memastikan tetap melaksanakan berbagai kegiatan agar ekonomi tetap berjalan.

"Tetapi constraint-nya adalah kontak, sementara kontak berkaitan dengan kendala kesehatan," katanya.

Yang perlu dilakukan pemerintah, ujar Nuning, adalah memastikan kontak yang dilakukan masyarakat dalam menjalankan berbagai kegiatan agar ekonomi tetap berjalan dilakukan secara aman.

Sehingga fungsi objektif berjalannya ekonomi bisa tetap berputar, tetapi dalam situasi bisa beraktivitas dalam protokol kesehatan.

Namun, Pandu Riono memperingatkan, berlangsungnya aktivitas ekonomi tanpa dibarengi surveilance aktif yang terdiri dari tes, lacak dan isolasi, maka Indonesia "harus bersiap menjadi wilayah di Asia yang gagal menangani pandemi dan ekonomi".

"Kita tidak akan menyelesaikan gelombang pertama tahun ini. "

"Itu efeknya dahsyat, Indonesia kalau memang tidak dipercaya sebagai negara yang berhasil mengendalikan pandemi, jangan harap Indonesia bisa memulihkan ekonomi," cetusnya. bbc.com

loading...