Nekat ABK China Tak Tahan Tersiksa hingga Lompat di Selat Malaka - Jurnalmuslim.com -->

Advertisement

Nekat ABK China Tak Tahan Tersiksa hingga Lompat di Selat Malaka

Minggu, 07 Juni 2020
Nekat ABK China Tak Tahan Tersiksa hingga Lompat di Selat Malaka

Jakarta - Cerita warga Indonesia yang bekerja sebagai ABK dan disiksa di kapal berbendera China nampaknya belum berakhir. Kali ini pengakuan tentang adanya eksploitasi yang dialami WNI ABK China datang dari AJ (30) dan R (22).

Keduanya ditemukan nelayan binaan Direktorat Polisi Air (Ditpolair) Polda Kepri, Tengky Azahar (35), tengah mengambang di laut lepas dan memint pertolongan. Keduanya mengaku nekat lompat dari Kapal Fu Lu Qing Yuan Yu karena tak tahan dengan perlakuan tak manusiawi oleh atasannya.

"Selama di atas kapal bekerja, lalu terjadi kekerasan dan istirahat, serta makan tidak cukup. Sehingga para pekerja asal indonesia yang ada di atas itu tidak betah bekerja," kata Direktur Polisi Air (Dirpolair) Polda Kepri Kombes GR Gultom saat dikonfirmasi detikcom, Sabtu (6/6/2020).

Kedua ABK nekat terjun ke laut setelah menyadari Kapal Fu Lu Qing Yuan Yu memasuki wilayah perairan Indonesia. Keduanya melompat dari kapal yang melintas di wilayah Selat Malaka.

"Saat kapal memasuki wilayah perairan Indonesia, tepatnya di perairan Selat Malaka, kedua korban berniat untuk terjun dengan menggunakan life jacket. Sekira pukul 03.00 WIB, saksi mendengarkan suara teriakan 'tolong... tolong...'. Setelah itu saksi mendengar kembali suara orang juga minta tolong," jelas Gultom.

"Lalu saksi langsung menghidupkan mesin pompong dan berjalan mengikuti arah, mencari-cari asal suara dan menjumpai dua orang yang sedang mengapung dengan menggunakan pelampung," sambung dia.

Gultom menerangkan kedua korban dalam kondisi lemah saat dievakuasi oleh nelayan. Saat tiba di daratan, sang nelayan langsung melaporkan peristiwa penemuan dua ABK tersebut ke polisi.

"Nelayan yang menolong atas nama Tengku Azahar (35) menghubungi kepolisian dari Polsek Tebing dan Satuan Polairud Polres Karimun," terang Gultom.

Kepada polisi, korban mengaku mengapung di laut sejak malam hari sebelum mereka ditemukan. "Mereka mengapung dari pukul 20.00 WIB (5 Juni 2020)," imbuh Gultom.

Kepada polisi, AJ dan R mengaku dibohongi perusahaan penyalur pekerja migran Indonesia (PMI) atau tenaga kerja Indonesia (TKI). Mereka dijanjikan berangkat ke Korea Selatan (Korsel) untuk bekerja sebagai buruh di perusahaan tekstil.

"Berdasarkan keterangan korban R, ada yang merekrut dirinya dan 5 orang lainnya untuk bekerja di Korea. Dan termyata dipekerjakan sebagai nelayan di atas Kapal Fu Lu Qing Yuan Yu 901," tutur GR Gultom.

Korban AJ juga mengaku pada polisi, dia dan 6 rekannya direkrut untuk bekerja di Korsel dan pada 24 Januari lalu diberangkatkan dari Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten.

"Korban AJ dan 6 orang temannya dinaikkan ke kapal Fu Lu Qing Yuan Yu 901 dan bekerja selama 3 bulan. Dipindah dan bertemu dengan korban R di atas kapal yang sama," ucap GR Gultom.

Kedua korban tergiur iming-iming akan digaji Rp 25 juta yang dijanjikan oleh perusahaan penyalur mereka. Namun kenyataannya mereka sendiri tak mengerti berapa gaji yang mereka dapatkan, sementara kontrak kerja mereka 2 tahun.

"Bahwa seluruh korban yang terdapat pada kapal nelayan dimaksud, menurut korban AJ dan R, sebelumnya telah dijanjikan untuk bekerja di negara Korea pada bagian tekstil, dengan jumlah gaji per bulannya sebesar Rp 25 juta," terang GR Gultom.

"Selama bekerja, para korban juga mengaku tidak pernah mengetahui berapa gaji yang diterimanya, sedangkan kontrak kerja yang dilakukan selama 2 tahun," sambung GR Gultom.

Kedua korban dievakuasi polair ke Puskesmas Tebing Tinggi untuk menjalani pemulihan. Kedua ABK itu juga di-rapid test terkait Corona.

"Tindak lanjutnya juga kami berkoordinasi dengan BNP2TKI Karimun," tandas GR Gultom. news.detik.com

loading...