Wabah Virus Babi Merambah ke Karangasem Bali - Jurnalmuslim.com -->

Advertisement

Wabah Virus Babi Merambah ke Karangasem Bali

Sabtu, 22 Februari 2020
Wabah Virus Babi Merambah ke Karangasem Bali

Kasus kematian babi di Bali merambah ke kabupaten paling timur Pulau Dewata, yaitu Karangasem. Peternak di desa tradisional bernama Tenganan, Kecamatan Manggis mulai merasa waswas.

Sejak sepekan terakhir, sejumlah babi peliharaan warga mati dengan gejala demam tinggi, tidak mau makan, dan kejang-kejang.

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian Karangasem, Made Ari Susanta mengaku baru mendapat informasi peristiwa yang terjadi di Desa Tenganan tersebut. Ia pun belum bisa memastikan penyebab babi peliharaan warga mati mendadak.

"Masih dalam penelusuran (penyebab kematian babi) petugas pos pelayanan Kesehatan Hewan Kecamatan Manggis," kata Susanta, Kamis (20/2).

Sementara itu, berdasarkan data terbaru yang divalidasi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, kasus kematian babi hampir menyentuh angka seribu atau tepatnya 955 ekor.
Lihat juga: Beda Demam Babi Afrika Sumut-Bali dengan Flu Mematikan H1N1

Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Ketut Gede Nata Kesuma mengatakan, dari jumlah tersebut, sebanyak 899 kasus kematian mengarah ke African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika.

"Kami mendata yang semula 888 ekor, telah kami validasi ke lapangan dan ada penambahan yang angkanya kecil. Total 955 terbaru, dengan rincian 899 mengarah ASF dan sisanya tidak," jelasnya.

Ia tak memungkiri bahwa ada kasus kematian satu per satu di beberapa daerah. Terkait hal itu, Nata Kesuma mengatakan babi yang mati secara tidak massal kemungkinan bukan karena virus melainkan kematian biasa.

"Kalau satu-satu mati hal yang biasa, kalau mewabah baru perlu dijelaskan. Tapi kesiapsiagaan kami tidak berhenti dan secara simultan terus menerus melakukan langkah kewaspadaan sehingga kami dapat melihat perkembangan dari kasus kematian babi di Bali ini," ujarnya.

Sejak virus pembunuh babi mewabah di Bali pada pertengahan Desember tahun lalu hingga saat ini, ia mengaku belum juga menerima hasil laboratorium yang dikirim ke Medan.

Padahal di satu sisi, peternak sangat menunggu hasil laboratorium tersebut agar mereka tahu jenis virus dan langkah pencegahan seperti apa yang tepat digunakan agar ternak mereka selamat.

"Itu hanya hasil laboratorium dan masih kami tunggu. Tapi penanganan (kasus babi mati secara massal) sudah penanganan ASF," jelasnya. cnnindonesia.com

loading...