Mao Zedong Menyatukan Cina & Menjadikannya Negara Komunis Terbesar - Jurnalmuslim.com

Advertisement

Mao Zedong Menyatukan Cina & Menjadikannya Negara Komunis Terbesar

Selasa, 01 Oktober 2019
Mao Zedong Menyatukan Cina & Menjadikannya Negara Komunis Terbesar

Jurnalmuslim.com - Cina boleh berbangga diri sebagai negeri dengan sejarah sangat panjang. Meski tidak pernah lama diokupasi negara asing, perang saudara meletus di Cina selama berabad-abad. Cina baru benar-benar merdeka pada 1 Oktober 1949 di bawah kepemimpinan seorang anak petani bernama Mao Zedong.

Sampai sekarang, foto Mao selalu dipajang ketika perayaan hari kemerdekaan Cina. Dia menjadi pemimpin revolusi yang paling disegani karena membawa Partai Komunis Cina (PKC) menang dalam perang sipil.

Mao berkecimpung dalam gerakan revolusi karena pengaruh dari Sun Yat Sen, seorang republikan yang menentang dominasi Dinasti Qing. Mao banyak menerima pengetahuan tentang demokrasi dari koran yang mendukung Yat Sen saat duduk di bangku sekolah di daerah Changsha.

Gaya rambut orang Cina yang memiliki ekor saat itu terkenal sebagai bentuk pengabdian kepada dinasti. Mao yang secara bulat memutuskan melawan kerajaan akhirnya memotong ekor rambutnya. Gaya rambutnya yang kemudian pendek dan disisir rapi ke kiri dan kanan membelah tengah kepalanya terus dipertahankan sampai akhir hayat.

Di umur 18, Mao kembali ke Hunan, kampung halamannya, dan bergabung dengan gerakan perlawanan terhadap dinasti terakhir Cina. Peristiwa yang terjadi di tahun 1911 itu dikenal dengan Revolusi Xinhai.

Gerakan itu berhasil membawa perubahan besar dengan runtuhnya era dinasti. Cina berhasil menjadi negara republik untuk pertama kali dan selesailah perjuangan Mao. Untuk sementara, negeri ini berhasil hidup damai dengan nama Republik Cina.

Apa kiprah Mao kala itu? Tidak ada yang signifikan.

Tahun berikutnya, Mao malah mengalami krisis jati diri. Dia berpindah-pindah sekolah, mulai dari sekolah kepolisian, sekolah hukum, hingga sekolah swasta. Dia melahap semua pengetahuan yang bisa didapat. Syahdan, Mao akhirnya menghabiskan waktu lebih lama di perpustakaan Provinsi Hunan. Dia tidak melanjutkan pendidikannya di sekolah resmi.

Perubahan besar dalam hidup Mao terjadi ketika dia menjadi asisten pengurus perpustakaan, Li Dazhao, di Universitas Peking pada 1918. Dazhao adalah salah satu pria yang mendaku diri sebagai komunis pertama di Cina.

Perkenalan dengan Dazhao menuntunnya ke jejaring yang lebih luas. Mao kemudian mengenal Duxiu, salah satu pemimpin Revolusi Xinhai. Jika tidak dipungut kedua orang itu, Mao muda mungkin tidak akan menjadi apa-apa.

“Saat itu sudah musim semi 1917, dan Mao yang berusia 24 tahun tidak memiliki pencapaian apapun dalam hidupnya,” tulis sejarawan Alexander Pantsov dan Stephen I. Levine dalam Mao: The Real Story (2012).

Di bawah asuhan kedua orang tersebut, pemikiran Mao berkembang. Dia mulai mengenal Revolusi Bolsevik dan komunisme di Rusia serta aktif menulis jurnal. Jurnal yang ditulisnya pertama kali di tahun 1919 berhasil terjual lebih dari 5 juta eksemplar.

Artikelnya yang menjadi sorotan nasional adalah "The Great Union of the Popular Masses". Isinya mengajak golongan petani, buruh, pelajar, kaum perempuan, guru, polisi, dan tukang becak dorong bersatu menggulingkan autokrasi dan penindasan kaum kapitalis.

Di mata Mao, pemerintahan Cina yang baru memang salah karena berpihak pada kepentingan kaum bangsawan, bukan petani. Cina kala itu juga mengizinkan Jepang mengambil alih daerah Shandong yang sebelumnya dikuasai Jerman. Hal ini memicu protes mahasiswa pada 4 Mei 1919.

Mao kemudian menjadi anggota Partai Komunis Cina yang didirikan Dazhao dan Duxiu pada 1921. Mao saat itu memilih menggalang kekuatan dan mendirikan basis PKC di Provinsi Hunan, kampung halamannya.

Setahun berselang, PKC bersekutu dengan partai nasionalis Cina atau Kuomintang untuk menentang penguasaan militer yang dikenal dengan pemerintahan Beiyang. Pemerintahan Beiyang menguasai berbagai wilayah di Cina yang terbagi dalam berbagai faksi. KMT dan PKC bermaksud menumpas semuanya agar kekuasaan bisa beralih kepada sipil.

Petani setempat juga ikut membantu KMT dan PKC. Bantuan itu diberikan lantaran dalam penguasaan militer, petani banyak menjadi korban. Bandit dan tentara sama-sama merajalela. Militer bukan menangkapi bandit, tapi terkadang malah membantu mereka melakukan pencurian dan penjarahan, bahkan pemerkosaan.

Peneliti asal Inggris, Jonathan Fenby, dalam Generalissimo: Chiang Kai-sek and The China He Lost (2003) menggambarkan situasi kala itu sangatlah muram. Dia menulis, “seperti halnya penjarahan dan pembunuhan, penculikan juga hal yang biasa terjadi. Keluarga korban dipaksa membayar tebusan setelah dikirimkan potongan jari atau telinga korban.”

Baca juga: Pujian dan Kecaman Orang Indonesia terhadap Mao Zedong

Kemenangan Komunis
Setelah militer berhasil digulingkan, PKC kini bermusuhan lagi dengan Kuomintang yang dipimpin Chiang Kai-shek. Di bawah kediktatoran Chiang, lima ribu orang dibantai dalam peristiwa yang kemudian dikenal dengan nama Pembantaian Shanghai.

Mao kemudian ditunjuk PKC sebagai pimpinan Pasukan Merah. Meski namanya “pasukan”, mereka hanya kaum buruh dan petani yang diberi latihan militer. Di bawah arahan Mao, pasukan ini gagal menandingi serangan Chiang. Mao pun harus mengungsi dari kota ke daerah pegunungan.

Pengungsian ini bukan yang terakhir. Tugas paling berat yang Mao emban adalah membawa 100 ribu orang ke tempat aman dengan berjalan 10 ribu kilometer atau enam ribu mil. Peristiwa ini tercatat sebagai long march. Dia harus berjalan memutar menembus kepungan pasukan Kuomintang dari Jiangxi ke Shaanxi dan melewati 24 sungai selama kurang lebih setahun.

Mao sebenarnya punya kesempatan untuk melarikan diri ke Tibet yang lebih ringan, jauh dari pasukan KMT. Namun dia tetap memaksakan diri. Jumlah 100 ribu orang yang dibawanya hanya tersisa tujuh sampai delapan ribu.

Meski demikian, kenekatan Mao itulah yang bisa membuat sisa-sisa PKC bertahan dari gempuran KMT. “Long March bisa dipertimbangkan sebagai bukti batas ketahanan manusia yang membuat PKC bertahan untuk berperang,” catat sejarawan Amerika, Lee Feigon, dalam Mao: The Reinterpretation (2002).

Setelah Jepang angkat kaki dari Cina, perang sipil berlanjut. Mao yang menjadi pimpinan PKC pada 1943 mendominasi strategi peperangan melawan KMT. Dengan strategi serangan balik, dia berhasil mendesak KMT secara perlahan dan memaksa Chiang mengungsi ke Taiwan. Pasukan PKC awalnya terdesak dan harus kehilangan banyak wilayah kekuasaannya. Namun Mao secara perlahan merebut daerah kekuasaan KMT.

Beruturut-turut Manchuria, Liaoning, Shenyang, dan Huaihai dikuasai PKC. Dalam buku Historical Dicitionary of Chinese Civil War (2013) yang ditulis Christopher R. Lew dan Edwin Pak-wah Leung, korban saat itu mencapai setidaknya 1,5 juta jiwa.

Mao sudah tak bisa dihentikan. Dia kemudian memproklamasikan Cina sebagai Republik Rakyat Tiongkok pada 1 Oktober 1949, tepat hari ini 70 tahun lalu, dan menjadi pemimpin dengan sebutan Ketua Mao. Posisi ketua adalah setara presiden atau pemimpin tertinggi negara. Dia kemudian menjadi presiden secara resmi pada 1954-1959.

“Jika kita tidak bisa menghentikan komunisme di Cina, aku yakin dia akan menyebar di seluruh Asia,” kata Chiang saat meminta pertolongan dunia internasional untuk menghentikan Mao.

Hilangnya Warisan Mao

Di seluruh dunia, Mao terkenal dengan ajarannya yang menggabungkan Leninisme dan Marxisme. Pandangan yang terkenal dengan nama Maoisme itu pada dasarnya membawa Cina menjadi negara komunis gaya baru. Berbeda dengan ajaran revolusi Karl Marx yang menekankan kaum proletariat sebagai penggerak revolusi, bagi Mao, pergerakan revolusi sejatinya berasal dari kaum petani.

Encyiclopedia Britannica mencatat, Mao justru memberikan pengaruh besar bagi ekonomi Cina menjelang lengser dari kekuasaan. Pada 1958-1962 Mao menggencarkan kampanye dengan tema Lompatan Hebat ke Depan (Great Leap Forward). Gagasan Mao pada intinya adalah mengurangi produktivitas pertanian dan fokus menggenjot sektor industri seperti baja. Namun hasilnya kontraproduktif: 20 juta orang diperkirakan meninggal akibat kelaparan.

Empat tahun setelah Great Leap Forward gagal, Mao bermaksud menggoyang kestabilan pemerintahan yang dia bentuk sendiri. Mao, menurut BBC, kemudian mengeluarkan wacana Revolusi Kebudayaan di tahun 1966 untuk mengingatkan perjuangan kepada kaum muda. Mao ditentang oleh koleganya saat perang sipil dahulu, Deng Xiaoping. Xiaoping yang tidak suka dengan cara-cara Mao lantas diserang oleh pendukung radikalnya.

Kelak, ketika Deng menggantikan Mao sebagai pemimpin tertinggi Cina, Deng jugalah yang secara perlahan-lahan meninggalkan warisan ideologi Mao.

Dalam Strange Rebels: 1979 and the Birth of the 21st Century (2013), Christian Caryl memandang Deng memang berusaha melanggengkan kekuasaan kaum komunis. Namun faktanya, di saat yang sama dia membawa arah negara menuju kapitalisme.

Salah satu warisan Deng adalah menjadikan Shenzhen sebagai kawasan Zona Ekonomi Spesial (Special Economic Zone/SEZ). Kini Shenzhen disebut-sebut sebagai calon Sillicon Valley selanjutnya—kota yang dipenuhi perkembangan teknologi dan inovasi.

Caryl lantas menulis, “orang yang membaktikan hidupnya untuk cita-cita komunisme, ternyata melakukan pembunuhan terhadap ideologi itu sendiri.” Dengan kata lain: Deng membunuh warisan Mao, pahlawan revolusinya sendiri. tirto.id

loading...