Syarh Matan Aqidah Thahawiyah 31-36

Syarh Matan Aqidah Thahawiyah 31-36   ______________________وكل دعوى النبوة بعده فغي وهوى:______________ Artinya: Setiap klaim kenabian sete...


Syarh Matan Aqidah Thahawiyah 31-36
 
______________________وكل دعوى النبوة بعده فغي وهوى:______________
Artinya: Setiap klaim kenabian setelah beliau adalah kesesatan dan hawa nafsu.
Maka segala bentuk pengakuan dan klaim terhadap kenabian setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah bathil dan kufur, karena tidaklah mungkin akan datang setelah Nabi shallallahu alaihi wasallam seorang Nabi pun, bahkan Isa alaihi salam ketika turun nantinya pada akhir zaman bukanlan dia datang sebagai seorang nabi maupun rasul ataupun datang dengan membawa syari’ah yang baru, akan tetapi dia datang sebagai seorang mujaddid/pembaharu bagi diin/millah Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam, juga sebagai pengikut Rasulullah dan berhukum dengan syari’ah Islam.

وهو المبعوث إلى عامة الجن وكافة الورى بالحق والهدى، وبالنور والضياء
____________________________________
Artinya: Beliau adalah utusan kepada bangsa jin dan manusia secara umum, dengan membawa kebenaran dan hidayah, juga dengan membawa cahaya dan sinar terang.
Sebagai seorang muslim yang mengaku beriman dan mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam inilah yang wajib untuk diyakini dan tidaklah cukup bagi kita dengan meyakini bahwa beliau seorang Rasul yang diutus kepada bangsa manusia saja, akan tetapi juga wajib untuk meyakini bahwa beliau adalah seorang Rasul yang diutus Allah kepada bangsa jin dan manusia.
 Diantara dalil yang menunjukkan keumuman risalah beliau shallallahu alaihi wasallam kepada seluruh manusia baik yang berbangsa Arab maupun non Arab, yang berkulit hitam maupun putih, yang tinggal dibelahan bumi timur maupun barat, bagi siapapun mereka yang sampai kepadanya dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wajib beriman dan taat kepadanya adalah:
(وما أرسلناك إلا كافة للناس بشيراً ونذيراً) [سبأ:28]
(قل يا أيها الناس إني رسول الله إليكم جميعاً) [الأعراف: 158]
(تبارك الذي نزل الفرقان على عبده ليكون للعالمين نذيراً) [الفرقان:1]
عن أبي هريرة أن رسول الله {صلى الله عليه وسلم} قال والذي نفس محمد بيده لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهوديٌّ ولا نصرانيٌّ يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أصحاب النار
أَخْبَرَنَا جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لِي الْمَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً
Sedangkan dalil atas keumuman risalaha beliau atas bangsa jin adalah firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Ahqaf ayat 29-31:
                                                      
Begitu juga firman-Nya dalam surat Al-Jin ayat 1-2:
                    
Dari sinilah dapat disimpulkan bahwa Nubuwah dan Risalah beliau shallallahu alaihi wasallam berlaku bagi segenap alam baik bangsa jin maupun manusia.
Apakah para Rasul juga terdapat dari kalangan bangsa Jin? Allah berfirman:
{يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي}[الأنعام:130]
Sebagian salaf semisal Dlahak bin Mujahim, dikatakan oleh Ibnu Jarir dia berpendat bahwasanya para Rasul juga diutus dari kalangan bangsa Jin, sebagaimana merujuk kepada firman Allah tersebut. Akan tetapi ini adalah pendapat yang lemah, karena sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas :
(الرسل من الإنس ومن الجن النُّذُر) Para Rasul itu hanyalah dari golongan manusia sementara dari golongan Jin adalah nudzur/para pemberi peringatan.  Seperti yang diterangkan oleh firman Allah:
{فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ}[الأحقاف:29]
Apakah para malaikat juga termasuk dalam keumuman risalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam? Sebagaimana keumuman firman Allah Ta’ala:
[ الفرقان:1]{لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا}
Pendapat yang semacam ini adalah keliru dan tidak dibenarkan, dikarenakan beberapa sebab:
Bahwasanya firman-Nya “liyakuna lil ‘alamina nadziran” adalah berisi peringatan, dan para Malaikat adalah makhluq-Nya yang senantiasa taat kepada-Nya dan tidak pernah bermaksiat kepada-Nya mereka tidak pernah melanggar larangan Allah dan melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka, makhluq-Nya yang Dia ciptakan hanya untuk beribadah kepada-Nya saja. Sehingga dari pada itu sangatlah tidak layak sebagai makhluq-Nya yang Dia ciptakan khusus hanya untuk mengabdi kepada-Nya saja kemudian dinisbatkan kepada mereka sifat butuh kepada peringatan.
Para Malaikat memiliki tugas-tugas yang Allah bebankan kepada mereka sehingga diantara mereka ada yang diberi tugas oleh Allah untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam itulah Ar-Ruh Jibril alaihis salam. Namun tidak ada dalil yang spesifik menjelaskan akan termasuknya Jibril ke dalam wahyu atau risalah yang disampaikan-Nya kepada perintah mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Bahwasanya para malaikat itu sebagaimana Allah terangkan dalam firman-Nya:
{يَسْتَغْفِرُونَ لِمَنْ فِي الْأَرْضِ}[الشورى:5]، {وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا}[غافر:7]
Mereka adalah para penolong anbiya’ yang diutus oleh Allah untuk menjadi penolong dan wali bagi para Nabi dan Hamba-Nya, yang mana dari hal tersebut menunjukkan bahwa para Malaikat itu tidak termasuk dari para pengikut Nabi dan Rasul, adapun kalaulah Mereka termasuk sebagai pengikut Nabi dan Rasul niscaya pertolongan Mereka adalah terkait dengan risalah bukan pertolongan kepada objek yang dituju.
Maka sebagai istimbath adalah, yang wajib diyakini dari diri beliau adalah:
Bahwasanya beliau adalah hamba dan Rasul Allah
Beliau adalah penutup para Nabi, tidak ada nabi setelah beliau
Risalah/kerasulan beliau adalah sangat global sekali, mencakup bangsa jin dan bangsa manusia.

وأن القرآن كلام الله :
____________________________________
Artinya: Dan bahwasanya Al-Qur’an adalah firman Allah (kalamullah)
Al-Qur’an adalah kalamullah Azza wa Jalla, baik maknanya maupun hurufnya, Ini adalah kaedah penting dan sangat pokok diantara ushuluddiin lainnya, banyak sekali kalangan yang tersesat karena salah dalam memahaminya, Allah berkata tentang Al-Qur’an itu  sekehendak-Nya maka kita mensifati Allah bahwasanya Dia Maha Berkata/Berbicara tentang sesuatu dan Kalam adalah termasuk dari sifat fi’liyah yang dimiliki Allah Ta’ala, sementara kaifiyah/caranya kita katakan Allah Maha Mengetahui atas hal tersebut, sebagaimana sifat-sifat-Nya yang lain kita beriman tentangnya namun tentang kaifiyahnya tidak kita ketahui.
Kalam adalah salah satu sifat diantara sifat-sifat Allah, dan penisbatannya kepada Allah adalah termasuk kepada suatu penisbatan sifat kepada pemilik sifat tersebut, karena secara umum segala sesuatu yang dinisbatkan atau disandarkan kepada Allah ada dua macam:
Penisbatan/penyandaran makhluq kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti: ‘abdullah, baitullah, naqotullah dll. Penisbatan semacam ini adalah termasuk penisbatan makhluq kepada Penciptanya.
Penisbatan secara maknanya, yaitu makna yang tidak berdiri dengan sendirinya, misalkan: rahmatullah. Maka penisbatan seperti ini adalah termasuk penisbatan sifat kepada pemilik sifat tersebut, dan kalamullah termasuk penisbatan yang demikian ini.
Di dalam memahami permasalahan Kalam ini manusia sampai terpecah ke dalam berbagai macam pendapat, diantaranya penting untuk didalami, dan karena sangat banyaknya perbedaan dalam permasalahan ini sampai-sampai tidak dianjurkan untuk mempelajari pendapat yang lain karena kebanyakannya sangat panjang dan terlalu berbelit-belit namun tidak ada faedahnya:
Madzhab Jahmiyah dan Madzhab Mu’tazilah, mereka sama-sama berpendapat bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluq, namun berbeda pada beberapa hal. Menurut mereka Allah Ta’ala pada dasarnya tidak memiliki sifat Kalam dan juga tidak disifati dengan Al-Mutakallim/Yang Maha Berbicara. Sehingga dari pandangan mereka tertiadakanlah sifat kalam bagi Allah, mereka takwilkan bahwa kalam itu adalah suatu makhluq tersendiri, lalu Allah ciptakan Al-Qur’an itu dan Dia sebut dengan kalam, maka kalamullah adalah salah satu dari makhluq-makhluq-Nya yang lain.
Madzhab Kulabiyah yakni pemikiran/pendapat Ibnu Kulab sendiri beserta para pengikutnya, dalam pandangan mereka bahwa Al-Qur’an adalah satu makna, sedangkan kitab-kitab yang Allah turunkan adalah sebagai bentuk ungkapan dari satu makna tersebut, yang kemudian terkadang diungkapkan menggunakan bahasa Arab sehingga dinamakan dengan Al-Qur’an, terkadang juga diungkapkan dengan bahasa Ibrani lalu dinamakan dengan Taurat begitu juga kitab yang lainnya. Maka Al-Qur’an adalah suatu makna bukanlah suatu suara yang diperdengarkan dan juga bukanlah suatu kalam yang sebenarnya, Al-Qur’an adalah suatu makna yang termasuk dalam dzat Rabb Azza wa Jalla, yang Dia sampaikan kepada Ruh Jibril dan Jibiril pun turun dengannya, lalu diungkapkan oleh Jibril dengan berbagai ungkapan yang bermacam-macam.
Madzhab Falasifah dan sebagian dari Sufiah, mereka berpendapat bahwa kalamullah adalah seluruh makna-makna yang bijak atau makna-makna hikmah yang dilahirkan oleh isi jiwa, dan menurut mereka untuk bisa meluapkan makna-makna tersebut bisa dengan menggunakan akal fikiran, karena kerja akal sangat berpengaruh bagi jiwa sesuai keefekitifannya, dan terkadang juga lahirnya makna-makna tersebut bisa juga dari dalam kalbu seseorang, sebagaimana perkataan sebagian kelompok sufi, sedangkan terciptanya berbagai makna yang ada sesuai dengan realita yang berbeda-beda.
Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah kalamullah Azza wa Jalla, yang diperdengarkan oleh Jibril dari-Nya kemudian Jibril turun dengannya kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, kemudian diperdengarkan dan dibacakan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam kepada manusia.
Sifat Kalam adalah termasuk sifat kamal (kesempurnaan) sedangkan lawan kata dari kalam tersebut adalah sifat naqsh (kekurangan). Allah Ta’ala berfirman:
وَاتَّخَذَ قَوْمُ مُوسَى مِنْ بَعْدِهِ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلًا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ أَلَمْ يَرَوْا أَنَّهُ لَا يُكَلِّمُهُمْ وَلَا يَهْدِيهِمْ سَبِيلًا [Al-A’raf:148]
Maka orang-orang yang menyembah lembu, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya tersebut itu lebih tahu Allah daripada kalangan-kalangan yang meniadakan sifat kalam bagi Allah seperti kelompok Mu’tazilah, karena mereka para penyembah sapi dari kaum Nabi Musa tersebut tidak pernah mengatakan kepada Nabi Musa: “wa Rabbuka laa yatakallamu”, dan Tuhanmu pun tidak berbicara juga. Dan diantara syubhat yang mereka lontarkan adalah dengan disifatkannya Allah dengan kalam akan mengarahkan kepada tasybih juga tajsim, maka kami katakan: Innallaha Ta’ala yatakallamu kama yaliqu bijalalihi, bukankah Allah Ta’ala berfirman:
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ[Yasin:65]
Sehingga apakah mereka tidak percaya bahwa nanti tangan-tangan mereka akan berbicara lalu bagaimana caranya?famadza ba’da alhaqq illa adldlolal.

منه بدأ بلا كيفية قولاً، وأنزله على رسوله وحياً:
____________________________________

Artinya: Dari-Nya lah Al-Qur’an bermula tanpa menetapkan (menyatakan) caranya sebagai Firman, dan Dia menurunkannya kepada Rasul-Nya sebagai wahyu.
[Ghafir:1-2]حم (1) تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ (2)
Maksudnya adalah bahwasanya Al-Qur’an turun dari Allah, Allah lah yang mengatakannya serta menurunkannya, tidaklah Al-Qur’an itu turun selain dari sisi Allah dan juga tidaklah bermula selain dari pada-Nya, sebagaimana dikatakan: Al-Qur’an itu mulanya dari Jibril, bermula dari lauhul mahfudz, mulanya dari angin, dsb, akan tetapi sungguh bahwasanya Al-Qur’an itu awal mulanya dari Allah Ta’ala, andaikata Al-Qur’an ini datangnya dari manusia pastilah salah seorang insan akan bisa mendatangkan satu surat saja semisalnya. Allah Ta’ala berfirman:
(وإن كنتم في ريب مما نزلنا على عبدنا فأتوا بسورة من مثله وادعوا شهدائكم من دون الله إن كنتم صادقين) [البقرة:23]
Allah pun menantang mereka dan melemahkan mereka dengan Al-Qur’an itu padahal mereka adalah bangsa Arab yang fasih, sementara Al-Qur’an menggunakan bahasa Arab, yang seandainya mereka mampu untuk menandingi Al-Qur’an, niscaya tak akan mereka simpan kemampuan mereka untuk menjawab tantangan tersebut, tatkala mereka memang tidak mamapu untuk melakukannya, itu menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah yang tidak dihinggapi suatu kebatilan sedikitpun.
Tidak diketahui bagaimana caranya Allah berkata dengan Al-Qur’an, sebagai wahyu kepada Rasul-Nya yakni Allah turunkan Al-Qur’an itu kepada Rasulullah melalui perantara Malaikat penyampai wahyu Jibril, yang malaikat Jibril mendengarkannya dari Allah Ta’ala, dan dari malaikat Jibril lah Rasulullah mendengarkan.

وصدّقه المؤمنون على ذلك حقاً:
____________________________________
Artinya: Orang-orang Mukmin membenarkan hal itu (bahwasanya) Al-Qur’an adalah Firman Allah).
Maka orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka membenarkan akan kebenaran Al-Qur’an adalah kalamullah sedangkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hanyalah sebagai seorang penyampai wahyu dari Allah Ta’ala sebagaimana yang telah diyakini dan dibenarkan oleh para sahabat, tabi’in beserta orang-orang yang senantiasa mengikuti jejak salaf sholeh secara ihsan. Sementara firman Allah Ta’ala:
(إنه لقول رسول كريم*ذي قوةٍ عند ذي العرش مكين) [التكوير: 19،20]
Yang dimaksud adalah Jibril, karena maksud dari ayat tersebut adalah masalah penyampaian wahyu, karena tidaklah mungkin Al-Qur’an itu dari perkataan Allah juga dari perkataan Jibril, sumber kalam itu hanya dari satu sumber bukan dua apalagi tiga atau empat, jadi penisbatan kalam kepada Allah adalah hakiki sementara jika kepada Jibril hanyalah masalah tabligh/penyampaian saja.  Dan dalam ayat yang lain:
(إنه لقول رسول كريم*وما هو بقول شاعر قليلاً ما تؤمنون) [الحاقة:40،41]
Dalam ayat tersebut yang dimaksud adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, begitu juga maksud dari ayat tersebut masih dalam permasalahan tabligh/penyampaian, karena terkadang Allah menyandarkan/menisbatkan kalam kepada dzat-Nya sendiri, tetapi terkadang juga kepada Jibril dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

وأيقنوا أنه كلام الله تعالى بالحقيقة:
____________________________________
Artinya: Dan mereka meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah Firman Allah secara hakiki.
Bukan meakini secara majazi tapi secara hakiki, sebagaimana keyakinan Mu’tazilah juga Jahmiyah, mereka mengatakan kalamullah, akan tetapi penisbatannya kepada Allah hanyalah sebatas majazi bukan hakiki, karena bagi mereka kalam adalah makhluq ciptaan Allah, sehingga penisbatannya kepada Allah adalah penisbatan makhluq kepada Khaliqnya.
Maka keyakinan mereka itupun salah kaprah karena kesalah pahaman mereka dalam permasalahan idlafah sebagaimana yang telah lalu penjelasannya.
Manusia di dalam memahami masalah Kalam secara umum terbagi menjadi empat kategori:
Yang berpendapat bahwasanya kalam itu mencakup lafadz juga makna seluruhnya, seperti halnya manusia yang mencakup tubuh dan ruh. Inilah pendapat para salaf sholih.
Mereka yang berpendapat bahwasanya kalam itu hanya mencakup lafadz saja sedangkan makna tidak termasuk ke dalam penamaan kalam, ini adalah perkataan kelompok mu’tazilah dan yang sebagainya.
Yang berpendapat bahwasanya kalam itu penyebutan untuk makna saja sedangkan penyebutannya terhadap lafadz hanya sekedar majazi bukan hakiki, ini adalah pendapat Ibnu Kullab beserta pengikutnya.
Yang berpendapat bahwasanya kalam itu musytarak (memeiliki beberapa arti) antara makna dan lafadz.


ليس بمخلوق ككلام البرية:
____________________________________
Artinya: (Al-Qur’an) bukanlah makhluq sebagaimana perkataan makhluq.
Yakni kalamullah itu bukanlah makhluq, hal ini sebagai bantahan kepada mu’tazilah dan jahmiyah, mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an makhluq, karena menurut mereka Allah itu tidak berbicara.
Metode yang mereka gunakan adalah dengan meniadakan sifat-sifat demi menghindari tasybih/penyerupaan dalam pandangan mereka, hal yang demikian disebabkan mereka tidaklah membedakan sifat makhluq dengan sifat Al-Khaliq, yang kemudian demi menghindari tasybih dalam pandangan mereka mereka malah terperosok ke dalam peniadaan yang tercela dan lebih tercela dari pada mulanya, sehingga bisa diibaratkan mereka bagaikan seseorang yang sedang menghindari hawa panas yang sangat menyengat akan tetapi malah berlindung kepada api. 

فمن سمعه فزعم أنه كلام البشر، فقد كفر:
____________________________________
Artinya: Barangsiapa yang mendengarkannya dan menganggap bahwa itu adalah ucapan manusia, maka dia telah kafir.
Tidak pernah diragukan lagi atas kafirnya orang yang mengingkari bahwasanya Al-Qur’an adalah kalamullah, walaupun dia mengatakan Al-Qur’an itu adalah perkataan Muhammad atau Jibril atau selainnya, seorang rajakah atau siapapun itu. Maka dari keyakinan yang shahih tersebut bagi siapa saja yang kemudian memperdengarkan kalamullah tapi tetap meyakini dan menganggap bahwa itu adalah ucapan manusia, dia telah kafir. Karena itu termasuk pengingkaran terhadap kalamullah Azza wa Jalla, yang andaikata Allah itu tidak mempunyai  Firman yang Dia turunkan kepada para hamba-Nya bagaimana mungkin hujjah bisa tegak atas mereka? Maka perkataan mereka ini hakekatnya adalah perusak syari’ah. Sebab apabila kalamullah adalah makhluq dan Allah tidak memiliki sifat kalam, sehingga taurat bukanlah kalamullah, Injil bukanlah kalamullah, bahkan Al-Qur’an bukanlah kalamullah, ini mengarahkan kepada hal bahwa Allah tidak pernah menegakkan hujjah atas manusia dan ini adalah termasuk perkara kekafiran yang sangat besar dan kesesatan yang sangat nyata.

وقد ذمه الله وعابه وأوعده بسقر، حيث قال تعالى: (سأصليه سقر) [المدثر:26].
____________________________________
Artinya: Allah telah mencela, mengecam dan mengancam (orang yang menganggap Firman Allah sebagai perkataan manusia) dengan Neraka Saqar, di mana Allah Ta’ala berfirman, “Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar.”(Al-Muddatstsir:26).
Sebagai balasan bagi orang-orang yang mengatakan hal tersebut, yaitu mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagaimana perkataan manusia karena janganlah mereka kira kekufuran itu hanyalah kesalahan dalam tataran amaliah/aksi saja akan tetapi kesalahan dalam perkara wacana/i’tiqod juga bisa menjerumuskan seseorang kepada kekufuran bahkan neraka. Sebagai contoh: apa yang dikatakan oleh Walid bin Mughirah salah seorang dari pembesar kafir quraisy Mekkah yang dijuluki dengan bunga mawarnya mekkah karena keagungannya dia di mata kaum quraisy, tapi setelah dia mendengarkan Al-Qur’an dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam betapa terperanjatnya dia dan seketika itu juga dia menyadari bahwasanya Al-Qur’an tersebut bukanlah produk buatan manusia sembari memujinya:
ليس بالشعر وليس بالسحر، أنا أعرف ضروب الشعر، وأعرف أنواع السحر، وأعرف الكهانة، وأعرف وأعرف…. فليس القرآن من هذه الأمور.
Semenjak itu kaumnya pun mulai mencelanya dan menghinanya. Maknanya bahwa sesungguhnya Walid bin Mughirah dedengkot musyrikin begitu juga orang-orang musyrik kafir quraisy saja sebenarnya mereka sangat mengakui kerasulan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam serta meyakini bahwa datangnya Al-Qur’an bukanlah dari seorang manusia tetapi dari Rabb Alamin. Namun setelah mereka mengetahuinya mereka malah semakin ingkar, wal’iyadlu billah bahkan Walid bin Mughiran sampai mengatakan perkataan yang terabadikan dalam Al-Qur’an:
(إن هذا إلا قول البشر) [المدثر: 25]
Maka Allah pun membalasnya dengan neraka, sebagaimana firman-Nya:
(سأصليه سقر) [المدثر:26]

فلما أوعد الله بسقر لمن قال : (إن هذا إلا قول البشر) علمنا وأيقنا أنه قول خالق البشر:
____________________________________
Artinya: Ketika Allah mengancam dengan Neraka Saqar bagi orang yang berkata, “Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.”(Al-Muddatstsir:25). Maka kita menjadi tahu dan meyakini bahwa Al-Qur’an itu adalah Firman Sang Pencipta manusia.
Sehingga bagi siapa saja yang mengatakan bahwa Al-Qur’an bukanlah kalamullah akan tetapi kalamul basyar maka tiada bedanya dia dengan Walid bin Mughirah, walaupun dia mengaku Islam, apa bedanya dia dengan Walid kecuali karean dia mengaku Islam sementara Walid tidak mengaku Islam? Karena klaim akan keislaman saja tidaklah cukup, sebab bagi siapa saja yang mengaku Islam akan tetapi dia kufur terhadap Al-Qur’an tidaklah bermanfaat pengakuannya terhadap Islam disebabkan bentuk pengingkarannya kepada Al-Qur’an adalah termasuk perkara riddah/yang mengeluarkan dari Islam. Sehingga memang betul-betul dituntut untuk meyakini bahwasanya Al-Qur’an hakikatnya adalah benar-benar kalamullah bukan makhluq.

ولا يشبه قول البشر:
____________________________________
Artinya: (Firman-Nya) tidaklah menyerupai perkataan manusia.
Karena perkataan Allah paling mulia, paling fasih dan paling benar, Allah Ta’ala berfirman:
[An-Nisa’:87] وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا
[Al-Isra’:88]
Seandainya Al-Qur’an itu adalah kalamurrasul bukan kalamullah, maka niscaya tidaklah akan ada cela bagi Walid yang mengatakan in hadza illa qoulu Muhammad, sementara itu bagaimana mungkin Allah mengancamnya dengan ancaman yang sangat keras? Maka bisa disimpulkan apa yang dikatakan oleh Walid bin Mughirah betul-betul suatu perkataan yang sangat besar serta mengerikan akibatnya, yaitu perkataan yang menisbatkan Al-Qur’an kepada selain kalamullah Ta’ala, yang pada intinya bagi siapa saja yang berjalan diatas manhaj dan pemikiran seperti ini maka dia sama halnya dengan Walid bin Mughirah yang diancam dengan neraka.

ومن وصف الله بمعنى من معاني البشر، فقد كفر:
____________________________________
Artinya: Dan barangsiapa yang mensifati Allah dengan suatu makna dari makna-makna (sifat yang disandang) manusia, maka dia telah kafir.
Yaitu bagi siapa saja yang menyamakan Allah dengan makna/sifat yang disandang oleh manusia, dia telah kafir karena hal tersebut adalah suatu bentuk pengurangan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

فمن أبصر هذا اعتبر:
____________________________________
Artinya: Barangsiapa yang melihat ini dengan seksama dia pasti dapat mengambil pelajaran.
Karena disana ada perbedaan yang sangat jelas antara sifat Al-Khaliq dengan sifat makhluq walaupun sama dalam isitilah penyebutannya juga makna saja. Tapi lebih dari itu berbeda pada prinsipnya yaitu hakikat, maka tidak bisa disamakan antara perkataan Al-Khaliq dengan penglihatan makhluq, tidak bisa disamakan pendengaran Al-Khaliq  Azza wa Jalla dengan pendengaran makhluq, tidak bisa disamakan penglihatan Al-Khaliq Azza wa Jalla dengan penglihatan makhluq, begitu juga ‘ilmu Allah dengan ilmu makhluq, sehingga barangsiapa yang tidak memisahkan antara keduanya dia telah kafir.

وعن مثل قول الكفار انزجر:
____________________________________
Artinya: Dan dia juga terhalang dari (kebatilan) seperti perkataan orang-orang kafir.
Dengan mengambil ‘ibrah kepada ayat Qur’an yang telah Allah turunkan berkenaan dengan Walid bin Mughirah, niscaya dia akan memahami kebatilah pemikiran kelompok yang berkeyakinan semacam ini.

وعلم أنه بصفاته ليس كالبشر.
____________________________________
Artinya: Dan pasti mengetahui bahwasanya Allah dengan segala sifat-Nya bukan seperti manusia.
Dia juga akan semakin paham dan yakin bahwa sifat-Nya bukanlah seperti sifat makhluq ciptaan-Nya karena antara sifat Al-khaliq dengan sifat makhluq memiliki berbagai macam perbedaan yang sangat prinsip dan signifikan.

والرؤية حق لأهل الجنة، بغير إحاطة ولا كيفية:
_______________________________
Artinya: Ar-Ru’yah (melihat Allah bagi orang-orang Mukmin di Hari Kiamat) adalah haq (benar adanya) bagi penduduk surga, tanpa meliputi dan tanpa menentukan cara (atau sepertri apa adanya).
Ru’yah adalah melihatnya orang-orang mukmin kepada Rabb mereka Subhanahu wa Ta’ala, mereka akan melihat Rabb mereka nanti di akhirat dengan sangat jelas menggunakan mata mereka sendiri, sebagaimana mereka melihat rembulan pada malam bulan purnama, dan sebagaimana mereka melihat matahari yang bersinar cerah pada hari yang tidak berawan. Hal demikian ini sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam hadits shahih:
إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لَا تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ
Maka dari itu mushannif menyatakan arru’yah adalah haq maksudnya dibenarkan oleh Al-Qur’an, Sunnah beserta ijma’ ahlus sunnah wal jama’ah antara yang salaf dan khalaf, dan tidaklah menyelisihinya kecuali dari kelompok-kelompok yang menyimpang lagi berbuat bid’ah seperti Jahmiyah dan Muktazilah, yang mereka juga diikuti oleh kelompok khawarij dan imamiyah. Mereka yang meniadakan ru’yah mengira bahwasanya dengan penetapan adanya ru’yah mengarahkan kepada pengertian bahwasanya Allah itu ada pada suatu posisi atau ada pada suatu tempat, dan Allah menurut mereka tidak pada suatu tempat tidak di dalam alam semesta, juga tidak di luar alam semesta, tidak di bawah ataupun di atas, tidak di kanan maupun di kiri, yang pada intinya menurut mereka Allah tidak pada suatu posisi atau tempat, maknanya Dia Ta’ala tidak ada, Ta’alallahu ‘amma yaqulun, mereka meniadakan ru’yah berdasarkan pemikiran yang batil seperti ini.
Asya’irah berpendapat karena tidak mungkin bagi mereka untuk mengingkari dalil dari Qur’an maupun sunnah, mereka pun juga menetapkan ru’yah bagi orang-orang mukmin, akan tetapi mereka mengatakan: Allah akan terlihat nanti di akhirat tetapi (terlihat) tidak pada suatu tempat. Subhanallah ini artinya saling kontradiksi, mana mungkin ada sesuatu yang bisa dilihat akan tetapi sesuatu tersebut tidak pada suatu arah, tempat atau posisi, kemudian mu’tazilah pun membantah hal tersebut karena hal ini mustahil. Sementara itu ahlus sunnah wal jama’ah mengatakan, Allah Ta’ala akan dilihat di mana Dia berada di arah ketinggian di atas mereka. Maka “arah” jika yang dimaksud adalah arah (mata angin) makhluq maka Allah memang tidak berada pada suatu arah, karena Allah tidak bertempat pada makhluq-Nya. Akan tetapi apabila yang dimaksud adalah dengan ketinggian di atas makhluq-makhluq-Nya, maka hal ini tsabit (tetap) bagi Allah Azza wa Jalla. Allah berada di atas ketinggian sana di atas langit-langit yang ketujuh, sementara arah tidaklah diitsbatkan dan tidak pula dinafikan oleh Kitabullah juga Sunnah, akan tetapi harus ditafsilkan.
Makna “bighairi ihathah wa la kaifiyah” bahwasanya pandangan mereka tidak dapat meliputi Allah Ta’ala dan mereka melihat Allah Ta’ala tanpa ihathah/meliputi-Nya.  Karena Allah Maha Besar tidak mungkin untuk diliputi pandangan manusia:
(ولا يحيطون به علماً) [طه:110]
Allah Ta’ala juga berfirman:
[الأنعام:103] ((لا تدركه الأبصار وهو يدرك الأبصار
Maksudnya adalah tidak meliputi-Nya bukan tidak melihat-Nya, karena Allah Ta’ala tidak mengatakan “la tarahul abshar” akan tetapi mengatakan “la tudrikuhul abshar” sehingga dimaknai “Idrak” meliputi adalah satu permbahasan dan “ru’yah” melihat adalah satu pembahasan lain. Maka pandangan mata akan mampu untuk melihat Allah Azza wa Jalla tetapi tidak pandangan mata tidak mampu meliputi-Nya. Sehingga terbantahlah orang-orang yang mengingkari ru’yah berdalil dengan ayat tersebut.
   
كما نطق به كتاب ربنا: (وجوه يومئذ ناضرة * إلى ربها ناظرة):
_______________________________
Artinya: Sebagaimana yang dikatakan oleh Kitab Rabb kita, “Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri, Kepada Rabbnya lah mereka melihat.”(Al-Qiyamah:22-23).
[Al-Qiyamah:22-23]وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ (22) إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ (23)
Yang dimaksud wajah-wajah pada ayat tersebut adalah wajah-wajah orang-orang Mukmin, karena kata nadlirah yang datang setelahnya bermakna cerah dan indah dan pada hari Kiamat kelak tidak ada yang memiliki wajah berbinar seperti ini kecuali orang-orang mukmin. Adapun kata “nadlirah” melihat maknanya adalah yang langsung dengan mata kepala.
Kata nadlara mempunyai beberapa spesifikasi pemakaian sesuai dengan transitifnya, apabila kata nadlara memang kata kerja transitif dengan sendirinya dan tanpa kata sambung maknanya adalah berhenti dan menunggu, sebagaimana firman-Nya:
 انظرونا نقتبس من نوركم[الحديد:13]
(هل ينظرون إلا أن يأتيهم الله) [البقر:210]
Namun apabila dijadikan kata kerja transitif dengan kata ‘fii’ maka maknanya menjadi berfikir dan merenung, sebagaimana firman-Nya:
(أولم ينظروا في ملكوت السموات والأرض) [الأعراف:185]
Yang jelas bahwa apabila kata nadlara dijadikan kata kerja transitif dengan ila maka maknanya adalah melihat secara langsung. Sebagaimana firman-Nya:
[Al-An’am:99]انْظُرُوا إِلَى ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ
Dalam ayat-ayat lainnya yang  menerangkan bahwa orang-orang mukmin akan melihat Rabbnya kelak adalah:
[Qof:35]لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ
Berkata Thabary: berkata Ali bin Abi Thalib dan Anas bin Malik radliyallahu Ta’ala ‘anhuma: mazid yaitu melihat kepada wajah Allah Ta’ala.
[Yunus:26]لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ
Alhusna adalah jannah, azziyadah adalah melihat kepada wajah Allah. Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menafsirkan demikian begitu juga para sahabat sebagaimana diterangkan dalam hadits shahih:
عن صهيب عن النبي صلى الله عليه وسلم قال * إذا دخل أهل الجنة الجنة قال يقول الله تبارك وتعالى تريدون شيئا أزيدكم فيقولون ألم تبيض وجوهنا ألم تدخلنا الجنة وتنجينا من النار قال فيكشف الحجاب فما أعطوا شيئا أحب إليهم من النظر إلى ربهم عز وجل
Bahkan imam Syafi’i berhujjah tentang melihatnya seorang mukmin kepada Rabbnya di akhirat dengan ayat:
[Al-Muthaffifin:15] كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ

Berkata imam Syafi’i: ketika (orang-orang kafir) tertupi karena kemurkaan-Nya, maka di dalamnya terdapat dalil atas ketetapan bahwa para wali-Nya melihat-Nya karena keridlaan-Nya.




وتفسيره على ما أراده الله تعالى وعلمه:
_______________________________
Artinya: Dan tafsirnya adalah sebagaimana yang diinginkan Allah dan diketahui oleh-Nya.
    Maksudnya adalah tafsiran dari “an-nadlru ilar Rabb’ Azza wa Jalla [Al-Qiyamah:23] sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah Ta'ala dan Dia sungguh sangat mengetahui tentang hal tersebut bukan sebagaimana yang dikehendaki oleh para ahlu bid’ah.
    Dan takwil yang dibenarkan adalah yang sesuai dengan keterangan As-Sunnah, sedangkan lawan katanya yakni takwil yang keliru adalah takwil yang menyelisihi keterangan dari As-Sunnah, karena takwil bermakna setiap lafadz atau kalimat yang tidak ada dalil dalam menyebutkannya begitu juga tidak kaitan yang bersangkut pautan dengan lafadz maupun kalimat tersebut, sebab bukanlah lafadz atau kalimat tersebut yang dimaksudkan oleh Sang Maha Pemberi petunjuk terhadap firman-Nya yang andaikata hal tersebut yang menjadi maksud dan tujuannya bisa dipastikan perkataan tersebut hanya akan berkutat dengan makna-makna yang menyelesihi dlahirnya perkataan tersebut sehingga diharapkan agar pendengar (kalam tersebut) tidak terperosok ke dalam kesamaran bahkan kesalahan. Sesungguhnya Allah menurunkan firman-Nya sebagai penjelas dan petunjuk maka apabila (makna) yang Dia kehendaki berselisihan dengan dlahirnya ataupun tidak ada keterkaitan dengan makna yang dituju yakni yang langsung bisa dipahami oleh setiap orang maka bukanlah (firman yang Dia turunkan) sebagai penjelas bukan juga sebagai petunjuk, sebab takwil itu hanya menginformasikan tentang makna yang diinginkan oleh pembicara bukanlah insya’ (mengarang). 
    Banyak  orang yang  tidak berhasil dalam memahami permasalahan takwil ini, karena yang dimaksudkan dari takwil adalah mengetahui maksud dan tujuan suatu perkataan yang dikehendaki oleh si pembicaranya, apabila dikatakan makna dari lafadz ini adalah demikian, maka hal tersebut adalah sebagai  pengabaran tentang maksud yang dikehendaki oleh pembicara dari perkataannya sehingga kalaulah kabar tersebut tidak sesuai dengannya itu artinya kedustaan atas nama pembicara.

وكل ما جاء في ذلك من الحديث الصحيح عن الرسول صلى الله عليه وآله وسلم فهو كما قال:
_______________________________
Artinya: Semua (dalil) yang ada tentang hal itu yang terdapat dalam hadits shahih dari Rasulullah, maka hal itu sebagaimana yang beliau sabdakan.
    Tentunya setiap riwayat yang datang dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tentang penetapan ru’yah hakikatnya adalah haq, sebagaimana wajibnya beriman atas ketetapan seluruh keterangan dari Al-Qur’an maka kitapun wajib untuk mengimaninya, karena memang perkataan Rasulullah adalah juga termasuk wahyu dari Allah Ta’ala (وما ينطق عن الهوى*إن هو إلا وحي يوحى) [النجم:3،4] yaitu wahyu kedua setelah Al-Qur’an. Rasulullah pun telah menyebutkan di dalam banyak hadits mutawatir bahwasanya orang-orang mukmin akan melihat Rabb mereka pada hari kiamat maka wajib untuk beriman kepadanya tanpa mentahrif, ta’thil, tamtsil juga dengan tanpa takyif.

ومعناه على ما أراد:
_______________________________
Artinya: Dan maknanya adalah sebagaimana yang beliau kehendaki.
    Sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bukan sebagaimana yang diinginkan oleh para ahlul bid’ah beserta kalangan menyimpang lainnya.

لا ندخل في ذلك متأولين بآرائنا، ولا متوهمين بأهوائنا:
_______________________________
Artinya: Kita tidak boleh masuk dalam permasalahan tersebut dengan menakwilkan berdasarkan (asumsi) pandangan-pandangan kita, dan tidak menerka-nerka berdasarkan (keinginan) hawa nafsu kita.
    Sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok Jahmiyah dan Mu’tazilah begitu juga orang-orang yang belajar dari mereka atau mengambil ilmu kepada mereka terutama berkenaan tentang takwil batil. Namun yang wajib bagi kita adalah ittiba’ kepada Al-Qur’an dan Sunnah tidak mencampurinya dengan akal fikiran seenak kita sendiri, dengan menyesuaikannya dengan apa yang datang dari Al-Qur’an maupun Sunnah, karena Al-Qur’an dan Sunnah lah yang menghukumi akal fikiran bukan sebaliknya. Dalam hadits shahih disebutkan:
عن عائشة رضي الله عنها عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: "إن أبغض الرجال إلى الله الألدُّ الخصم"
Diriwayatkan dari Aisyah radliyallahu anha, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang-orang penentang yang sangat keras kepala.”

فإنه ما سَلِمَ في دينه إلا من سلّم لله عز وجل ولرسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم:
_______________________________
Artinya: Karena sesungguhnya tidak ada orang yang selamat dalam agamanya, kecuali orang yang menyerahkan sepenuhnya kepada Allah dan Rasul-Nya.
    ‘Sallama’ atau menyerahkan maksudnya menerima segala sesuatu yang datang dari Allah Azza wa Jalla dan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam serta meyakininya dengan tanpa mencampur adukkannya dengan tahrif dan takwil, inilah hakikat makna taslim.
    Imam Asy-Syafi’i pernah berkata, “Aku beriman kepada Allah dan apa-apa yang disebutkan oleh kitabullah sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah, aku juga beriman kepada Rasulullah serta apa-apa yang datang dari Rasulullah sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” Yaitu tidak menyesuaikan dengan kehendak hawa nafsu, atau dengan tahrif dan semata dengan perkataan manusia.
Demikian juga  yang pernah dikatakan oleh Abu Abdillah Muhammad bin Umar Ar-Rozi:
…نهاية إقدام العقول عقال *** وغاية سعي العالمين ضلالُ
…وأرواحنا في وحشة من جسومنا *** وحاصل دنيانا أذى ووبال
…ولم نستفد من بحثنا طول عمرنا *** سوى أن جمعنا فيه قيل وقالوا

ورد علم ما اشتبه عليه إلى عالمه:
_______________________________
Artinya: Dan mengembalikan apa yang tidak jelas baginya kepada yang mengetahuinya.
    Jadi sekiranya kita mendapati seorang yang alim lagi tsiqqoh yang menerangkan kepada kita sesuatu yang masih belum kita pahami, maka Alhamduillah segala puji hanya bagi Allah Ta’ala, dan apabila kita tidak mendapati seorang alim yang dapat menjelaskan kepada kita maka hendaknya kita tetap berpegang teguh kepada keyakinan kita bahwasanya hal tersebut adalah haq/benar kemudian menyerahkannya kepada Allah Ta’ala karena memang hal permasalahan tersebut belum jelas bagi kita.
    Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika bertanya kepada para sahabatnya tentang sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, mereka pun mengatakan: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, mereka tidak berpendapat dengan dugaan-dugaan dan tidak pula mengira-ngira.

ولا تثبت قدم الإسلام إلا على ظهر التسليم والاستسلام:
_______________________________
Artinya: Tidak tsabat (tetap secara benar) keislaman (seseorang) kecuali berdasarkan sikap berserah diri dan kepasrahan sepenuhnya.
    Tidaklah kukuh keislaman seseorang dengan benar kecuali dengan menyerahkan sepenuhnya pemahaman keislaman seorang tersebut kepada Allah Ta’ala.
(فلا وربك لا يؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لا يجدوا في أنفسهم حرجاً مما قضيت ويسلموا تسليماً) [النساء:65].
    Istislam maknanya adalah tunduk dan patuh kepada setiap sesuatu yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

فمن رام علم ما حظر عنه علمه، ولم يقنع بالتسليم فهمه، حجبه مرامه عن خالص التوحيد، وصافي المعرفة، وصحيح الإيمان:
_______________________________
Artinya: Barangsiapa yang menginginkan sesuatu yang tidak diperlihatkan ilmu tentangnya dan tidak puas dengan menyerahkan pemahamannya, dia akan dihalangi oleh keinginannya tersebut dari tauhid yang murni dan ma’rifat yang bersih serta Iman yang shahih.
    Artinya barang siapa tidak beriman terhadap sesuatu yang dihijabi/dihalangi oleh Allah untuk diketahui misalkan menanyakan tentang kaifiyah (berkenaan tentang asma’ wa sifat) maka yang wajib atas kita adalah beriman seperti apa yang disebutkan (oleh nash) yaitu mengembalikan sepenuhnya kepada Allah Ta’ala.
(فأما الذين آمنوا فيعلمون أنه الحق من ربهم وأما الذين كفروا فيقولون ماذا أراد الله بهذا مثلاً) [البقرة:26].
(هو الذي أنزل عليك الكتاب منه آيات محكمات هن أم الكتاب وأخر متشابهات فأما الذين في قلوبهم زيغ فيتبعون ما تشابه منه ابتغاء الفتنة وابتغاء تأويله وما يعلم تأويله إلا الله) [آل عمران:7]
    Allah lah yang menghalangi bagi makhluk untuk mengetahuinya maka janganlah kita sampai menyusahkan diri sendiri. Sedangkan “Ar-rasihun fil’ilmi” mereka menyerahkan dan mengembalikannya kepada Allah Ta’ala dan bukan berarti dengan dihalanginya mereka dari mengetahui hakikatnya kemudian mereka jadi tidak beriman.

فيتذبذب بين الكفر والإيمان، والتصديق التكذيب، والإقرار والإنكار:
_______________________________
Artinya: Sehingga dia ragu-ragu antara kufur dan Iman, antara membenarkan dan mendustakan, antara menetapkan dan mengingkari.
    Barang siapa yang tidak berserah diri kepada Allah dan Rasul-Nya malahan dengannya akan menghalanginya dari mengenal Allah dan mengenal al-haqq, sehingga dia tergelincir ke dalam kebimbangan dan kesesatan. Seperti inilah keadaaan orang-orang munafiq yang sedang goyah, terkadang mereka bersama kaum muslimin tetapi terkadang mereka bersama orang-orang munafiq terkadang mereka membenarkan tetapi terkadang mereka dusta. Akan tetapi ahlul iman apa yang mereka ilmui mereka pun mengatakan demikian, dan apa yang bagi mereka tidak mereka ketahui diserahkan seluruhnya kepada Allah Ta’ala tentang hal tersebut, mereka tidak membebani diri mereka padahal mereka tidak tahu, jangan sampai mereka katakan tentang Allah yang tidak mereka ketahui ilmunya, sehingga berkata tentang Allah tanpa disertai dengan ilmu hakikatnya menyamai kesyirikan bahkan terkadang melebihi syirik, sebagaimana firman Allah:
(قل إنما حرم ربي الفواحش ما ظهر منها وما بطن والإثم والبغي بغير الحق وأن تشركوا بالله ما لم ينزل به سلطاناً وأن تقولوا على الله ما لا تعلمون) [الأعراف:33]
    Diterangkan dalam ayat tersebut bahwasanya Allah menjadikan permasalahan “alqoulu ‘alallah bighairi ‘ilmin” di atas kesyirikan kepada Allah ini menunjukkan sangat bahayanya mengatakan tentang Allah tanpa disertai dengan ilmu.
موسوساً تائهاً شاكاً، لا مؤمناً مصدقاً، ولا جاحداً مكذباً:
_______________________________
Artinya: Dia senantiasa was-was, kehilangan arah, dan ragu-ragu; tidak sebagai seorang Mukmin yang membenarkan tapi juga tidak sebagai seorang yang mengingkari lagi mendustakan.
    Inilah keadaan orang-orang yang terperosok ke dalam jurang keragu-raguan begitu juga orang-orang munafiq, mereka selalu ragu, ragu dan ragu, mereka senantiasa bimbang dan goyah, karena pijakan mereka terhadap Islam tidaklah kokoh dan mudah goyah, mereka tidak memasrahkan semuanya kepada Allah juga tidak kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Allah sebutkan tentag orang-orang munafiq dalam firman-Nya:
(مذبذبين بين ذلك لا إلى هؤلاء ولا إلى هؤلاء) [النساء:143]
(وإذا لقوا الذين آمنوا قالوا آمنا وإذا خلوا إلى شياطينهم قالوا إنا معكم إنما نحن مستهزءون*الله يستهزئ بهم ويمدهم في طغيانهم يعمهون) [البقرة:14،15]
Disarikan Dari Kitab Syarh Aqidah Ath-Thohawiyyah Milik Syaikh Ibn Abil Izz

COMMENTS

Iklan Konten$show=post

loading...

Artikel Terbaru$type=three$author=hide$comment=hide$rm=hide$show=post$cate=2$count=9$pagination=5

Nama

'Umdatul Ahkam 25 november 4 nove 4 november aa gym aadc2 Abdul Chair Ramadhan abu bakar ashidiq aceh Adab ade armando ade komaruddin adik ahok administrasi adsense advertorial afrika aher ahmad baidhowi ahmad dhani ahmad zainuddin ahok ahok djarot ahok illuminati ahokers akhlak akmal sjafril aksi bela islam iii Al Hikmah al quran palsu al umm al washiliyah al-quran Alex Naddour alfian tanjung ali bin abi thalib ali jaber aliansi pemuda makassar aliran sesat allepo alwi shihab am fatwa amerika amien rais amir faishol fath amir hamzah an najah anis baswedan anis dan sandiaga anton medan anton tabah antv april Aqidah aqidah syiah arab saudi archandra ariana grande arief rahman arifin ilham arik banyadhu artikel ilmiah Artikel Ramadhan atmiwiloto australlia bab thoharoh bachtiar nasir backmasking badai pasir arab saudi balaraja band bandung bangka belitung bangkalan bangladesh banjar banjarmasjin bank banten banyuwangi barcelona bareskrim bashar asad bawaslu bbc beasiswa beasiswa iain antasari beasiswa kuwait beasiswa tahfidz beasiswa turki bedah buku syiah bekal dakwah bekam bekasi berita bid'ah bima arya bin bina qalam biografi bireun Bisnis Online bitung blog tutorial bmh bmh jatim bmh lumajang bnn bnpt bogor bom saudi bpi bpjs brebes britney spears brunei buddha budha bukit duri buku buku gratis Buletin bungkul buni yani burhan shodiq bus pendemo buya hamka buya yahya cadar cakung cangkul car free day cba Ceramah charlie hebdo china cholil nafis cholil ridwan cilacap cina colil ridhwan cut nyak din dahnil anzar darul hijrah dasrul Data Kesesatan Syi'ah dauroh ddi debat bahasa arab internasional mesir dede demo tolak ahok demonstrasi densus 88 depok detik didin hafidhuddin dimas kanjeng din syamsuddin dina y sulaeman djarot do'a donald frans donald trump Download dprd dr miftah el banjari dr tiar dr zakir naik Dr. Adian Husaini Dr. Ahmad Zain An-Najah dr. aidh al qarni dr. warsito dream dzan farid dzulhijjah emilia renita erdogan Esra Panese event facebook fadel muhammad fadl zon fahira idris fahri hamzah fakta fans celtic farid okbah fatih seferagic Featured felix siauw ferdinand hutahean ferihana filipina film Fiqih fiqih dakwah fiqih haji fiqih ihram fiqih jenazah fiqih jihad fiqih jual beli fiqih madzhab imam syaf'i fiqih nikah fiqih puasa fiqih qurban firanda andirja florida foto Foto-Foto kesesatan Syi'ah fpi freddy budiman gafatar gajah gallery gambar game online game pes garut gatot nurmantyo gaza gerhana matahari gerindra Gilbert Lumoindong globaltv golkar gontor google gp anshor gresik gubernur ntb guru gus manan gus sholah habib rizieq hacker Hadits hadyu hafidz quran haiti halal.ad ham hamdan zoelva hari pancasila Harits Abu Ulya hartoyo harvard hary tanoesoedibjo headline hidayat nur wahid hidayatullah hikmah hmi hollywood hukum seputar ta'ziyah husain syahid husni thamrin hut ri 71 ibadah ibnu khaldun ibu saeni ical idc ihw ikhsan modjo iklan ilc 8 november illuminati Ilmu Faroidh ilyas karim imam masjid al aqsa imamah imunisasi india indonesia indramayu inews info kajian inggris insan mokoginta inspiratif intermezo internasional ipb ipw irak iran irena handono irlandia Islamophobia islandia israel istanbul istiqlal istri ahok istri gus dur jabar jack ma jakarta jakut jamaah tabligh janet jackson jas jatim jawa barat jawa timur Jayawijaya Jeffry Winters jember jepang jerman jihad jihad internasional jil jilbab jk jokowi jokowi dan ahok jonru jpnn Kabar Muslim Burma 2012 kalbar kalimantan kammi kampung rambutan kanada Kapolda kapolri kapry nanda karawang kashmir kasih keluarga Kemendag kenan nabil kereta cepat kesehatan KH Ali Mustafa Ya'qub KH Hasyim Muzadi kh. abdur rasyid khairul anwar Khutbah jum'at Kiamat king abdul aziz king saudi university kiriman pembaca kisah kisah hikmah kisah para nabi kivlan zen kiwil knrp koko kolombia komnas ham komnas perempuan kompas kompastv komunis koneksi kopi jessica korea utara kotamabagu kpai kpk kpu kristen kristenisasi kristologi ktp kuba kuburan kuliner kurma iran kutab al fatih kyai nur labuhbatu Lain-lain lalu heru rojak lampung Laurence Rossignol lbh paham lenteng agung lgbt liberal Liberalisme Lieus sungkharisma lipia lira lomba lomba tahfidz lombok london luar batang lucky hakim Lucu luhut lukman hakim luthfi bashori ma'ruf amin mabuk madina madrasah madura magelang mahfud md Makalah Menarik Makalah Thoharoh makassar make money blog malang malaysia maluku manado mark zuckberg maroko marwah daud marzukie alie masjid nabawi mataram medan media mainstream megawati menag menakjubkan mendagri mengerikan menhan merdeka mesir metrotv minahasa miras mizanul muslim mnctv mpr ms kaban muallaf muda mudi mudik 2016 muhammad ali muhammad taufik muhammadiyah muharram muhasabah mui mukidi mukjizat mulyono munarman musa musik muslim uyghur muslimah Musthalahaat al-fuqaha’ wal ushuliyin Mustholahul Hadits Mustolahat Fil fiqh myanmar nabil narkoba nasi uduk babi nasyiatul aisyiyah natal new york nigeria niken taradina ntb nu nur tajib nusairiyah nusantara nushairiyah nushron wahid oemar mita oezil olahraga omran opini ozil padang Paham Sesat pajak pakistan palestina palu pamekasan pan Panduan Ibadah Qurban pangeran harry pangi syarwi chaniago papua paris pasar ikan patani pbnu pdip pekerja asing Pemerintah Indonesia pendeta cabul pendeta vatikan pendidikan penemu muslim pengungsi suriah penjaringan penyerangan polisi tangerang perda islam pers persis pesantren petisi pilkada dki jakarta pki pks Pluralisme pokemon polisi politik ponorogo pontianak poso pp muhammadiyah ppp prabowo prancis probolinggo Prof DR Abdul Hadi profil proxy war psq puisi punk purbalingga purworejo pushami pwnu qishash quraish shihab rachmawati rawajati rcti reklamasi retorika dakwah revenuehits Rezim Penguasa riau ridwan kamil rifkoh abriani rio haryanto risma Riyadh Badr Bajrey rizal ramli robithoh alam islami rohingya rokok ronaldo rudal jokowi ruhut rumah tangga rusia Sahabat sahabat nabi said aqil sains salafy indonesia salib mampang salibis salim a. fillah samarinda sambudi sampang sandiago uno santoso santri sayidiman suryohadiprojo sby sd cilegon Sejarah sekjen pbb sekte dan aliran Sekularisme selandia sepak bola Shahnaz Laghari shalawat badar shalawat nabi shared2earn sidoarjo simposium anti pki siroh siyono skotlandia Slank sma soekarno solo spanyol spbu sragen stand up comedy stevanus stiba makassar subang sudan sukabumi sukmawati sulawesi sulteng sumbar sumedang sumsel sumut surabaya suriah surya prabowo susanto swedia syafii maarif syaikh sudais Syarh 'Umdatul Ahkam Syarh Matan Thawiyah syariat islam syarifah salsabila Syiah syiah mencela nabi muhammad syiah mencela sahabat syiah menghina muawiyah syiah mengkafirkan aisyah syiah mengkafirkan asyariyah syiah mengkafirkan sahabat syiah suriah syiah takfiri syirik syubhat pengagung kubur Syubhat Sejarah Rosululloh SAW Tabi'in Tabi'ut Tabi'in Tafsir tafsir al maidah tahukah? takbir keliling tangerang tanjungbalai tawasul Tax Amnesty Tazkiyyatunnafs tebet tebingtinggi teknologi tema ceramah tema dakwah teman ahok tempelate blog tempo tengger Tengku Erry Nuradi terbaru tere liye Terjemahan kitab Musthalahaat al-fuqaha’ wal ushuliyin terompet dari sampul al quran teroris teroris separatis terorisme terorisme medan teuku nasrullah teungku zulkarnain thailand thibun nabawi timor leste tionghoa tiongkok Tips tki tni tni au keroyok jamaah masjid trans7 Tsaqofah tuban tulisan turki tutorial tvone tvri uea ui uighur uika bogor uim uin ulil ullcok Ulumul Quran umroh gratis unas unesco Unik universitas islam madinah universitas paramadina unj Ushulul Fiqh ust. budi ashari ust. zaitun rasmin ust. zulkifli vaksin palsu valentine day van dame video vietnam wacana wahdah islamiyah walisongo wasilah wawasan wtc yahudi yaman yogya yogyakarta yordania yusril yusuf al qardawi yusuf mansur yuyuk andriati zaid royani zakat zulkifli hasan
false
ltr
item
Jurnalmuslim.com: Syarh Matan Aqidah Thahawiyah 31-36
Syarh Matan Aqidah Thahawiyah 31-36
Jurnalmuslim.com
http://www.jurnalmuslim.com/2013/01/syarh-matan-aqidah-thahawiyah-31-36.html
http://www.jurnalmuslim.com/
http://www.jurnalmuslim.com/
http://www.jurnalmuslim.com/2013/01/syarh-matan-aqidah-thahawiyah-31-36.html
true
3812561232547159440
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy