Iman Itu Berdasarkan Ucapan Dan Perbuatan, Ia Bertambah Dan Berkurang

الإيمان قول وعمل يزيد وينقص Iman Itu Berdasarkan Ucapan Dan Perbuatan, Ia Bertambah Dan Berkuran...


الإيمان قول وعمل يزيد وينقص
Iman Itu Berdasarkan Ucapan Dan Perbuatan, Ia Bertambah Dan Berkurang
OLEH: FADILA RAHIM
Pendahuluan
            Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin atas segala limpahan hidayah,
rahmat, dan hidayah-Nya. Shalawat dan salam senantiasa kita panjatkan kepada Rasulullah SAW, keluarga, shahabat dan ummatnya yang istiqomah menempuh syari’atnya hingga akhir zaman.
            Pembahasan masalah iman merupakan perkara yang sangat unrgen dalam agama islam, dikarenakan masalah iman ada kaitannya dengan agama itu sendiri. Artinya apabila iman seseorang itu benar maka benarlah ia dalam beragama, sebaliknya apabila iman seseorang itu rusak, maka rusaklah agamanya.
            Namun sebaliknya dewasa ini, kebanyakan kaum muslimin tidak mengerti bahkan jauh dari pemahaman yang benar akan hal ini. Jarang dari mereka yang ingin mempelajarinya dengan serius, bahkan ada sebagian dari mereka pobi apabila mendengarkan istilah iman atau aqidah, mereka malah cenderung pada amalan-amalan serta keyakinan yang baru (bid’ah) padahal perbuatan ini jauh-jauh hari dilarang oleh Rasulullah, karena akan menyesatkan pelakunya,
            Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengangkat sebuah tema yang sudah merupakan kesepakatan ulama’ salaf dan ini merupakan keyakinan ahlus sunnah wal jama’ah, yaitu (الإيمان قول وعمل يزيد وينقص) iman itu perkataan dan berbuatan, ia bertambah dan berkuran.
Dalam makalah ini penulis membagikan dengan dua pembahasan, diantaranya adalah: pertama; iman itu berdasarkan ucapan dan perbuatan. Kedua; iman itu bertambah dan berkurang.
Pertama: Iman itu berdasarkan ucapan dan perbuatan (الإيمان قول وعمل)
Pengertian
            Maksud dari qaulun(ucapan) adalah qaulul qalbi wa lisan(ucapan hati dan lisan), sedangkan maksud dari ‘amalun(perbuatan) adalah amalul qolbi wal jawaarih (berbuatan hati dan anggota badan).[1]
            Ibnu taimiyyah berpendapat bahwa maksud dari qaulun(ucapan) adalah qaulul qalbi wa lisan(ucapan hati dan lisan) sedangkan yang dimaksud amalun(perbuatan) yaitu amalul qalbi wa lisan wa al-jawarih(berbuatan hati, lisan dan anggota badan.[2]
Penjelasan Ringkas
Sedangkan maksud dari pengertian di atas adalah sebagai berikut:
a)        Qoulul Qolbi (ucapan hati)
Maksud dari qaulul qalbi adalah membenarkannya dan meyakininya, sebagaimana firman Allah SWT:
وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ # لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ذَلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ
Artinya, "Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Robb mereka. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik." (QS. Az Zumar:33-34).
Firman Allah juga:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا
Artinya; “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu” (QS. Al-Hujurat: 15)
Maksud dari ayat ini adalah ia membenarkan kemudian ia tidak ragu.
Rasulullah bersabda:
الْإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ
"Iman adalah kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan kamu beriman kepada hari berbangkit". (HR. Bukhari)
b)     Qaulul lisan (ucapan lisan)
Maksudnya adalah mengucapkan dua kalimat syahadat dan menetapkan sebagaimana lazimnya. Sebagaimana firman Allah:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (QS. Al-ahkaf: 13)
Rasulullah bersabda:
أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi; tidak ada ilah kecuali Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. (HR. Bukhari)
c)      Amalul Qalbi (perbuatan hati)
Yaitu niat, ikhlas, cinta, berserah diri, menerima atas Allah SWT dan bertawakkal kepadanya serta melaziminya dan mengikutinya. Sebagaimana firman Allah:
وَلاَ تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ
“Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya.” (QS. Al-an’am: 52)
Juga firmanNya:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”(QS. Al-anfal: 2)
Sabda Rasul yang berbunyi:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
"Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan". (HR. Bukhari dan Muslim)
Juga sabda Nabi SAW:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
"Tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya dan dari manusia seluruhnya".(HR. Bukhari dan Muslim)
d)     Amalul Lisan Wal Jawarih (perbuatan lisan dan anggota badan)
Yang dimaksud dengan amalul lisan (perbuatan lisan) adalah sesuatu yang tidak akan terlaksana kecuali dengannya, seperti membaca al-Qur’an dan seluruh dzikir seperti tasbih, tahmid, tahlil, takbir, do’a, istigfar, dan lain sebagainya.
Sedangkan yang dimaksud dengan amalul jawaarih (perbuatan anggota badan) yaitu sesuatu yang tidak akan terjadi kecuali dengannya, berdiri, ruku’, sujud, berjalan dalam rangka mencari ridho Allah, amar ma’ruf nahi mungkar dan lain sebagainya dari cabang keimanan.
Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. (QS. Fatir: 29)
Juga firman Allah:
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآَنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (111) التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآَمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah. lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar (111) Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat , yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu'min itu.” (QS. At-Taubah: 111-112)
Semua pembagian ini telah terkumpul pada Sabda Nabi SAW yang berbunyi:
الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ
"Iman itu ada tujuh puluh tiga sampai tujuh puluh sembilan, atau enam puluh tiga sampai enam puluh sembilan cabang. Yang paling utama adalah perkataan, LAA ILAAHA ILLALLAHU (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah). Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu adalah sebagian dari iman." (HR. Bukhari dan Muslim)
*      Maksud dari ucapan LAA ILAAHA ILLALLAH (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah) adalah keyakinan dan ucapan hati.
*      Maksud dari “Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan” adalah perbuatan anggota badan.
*      Maksud dari “Dan malu itu adalah sebagian dari iman” ini adalah amalan hati.[3]

Perkataan Salaf
Perkataan ulama’ yang berkenaan dengan iman, bahwa iman itu ucapan dan perbuatan, Diantaranya adalah:
             Imam al-Lika’i berkata, "Imam Bukhari berkata, 'Saya telah berjumpa dengan lebih dari seribu ulama di segala penjuru saya tidak mendapatkan perbedaan pendapat dikalangan mereka bahwa; iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang[4]."
Iman adalah; ”Qoulun wa amalun wa niyatun. (Perkataan, perbuatan dan niat)"  Menurut Ibnu Taimiyah  dan Imam Al-lalika'iy pendapat ini dinukil oleh Imam Asy-Syafi'ie dalam al-Umm-nya. Bahkan ada yang menukil ijma' tentang definisi iman yang ini.[5]
            Ada juga yang mengatakan bahwa iman adalah, "Qoulun wa amalun wa niyatun wa ittiba'us sunnah.' (Perkataan, perbuatan niat dan mengikuti sunnah)[6].
Abdullah bin Mubarak berkata: Iman adalah ucapan dan perbuatan, dan ia bertingkat-tingkat.[7]
Syufyan bin ‘Uyainah berkata: Iman adalah ucapan dan perbuatan, ia bertambah dan berkurang.[8]

Kelompok Yang Menyeleweng Dan Jawabannya
            Kelompok yang menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam permasalahan ini ada tiga golongan, diantaranya adalah:
Kelompok pertama: Murji’ah
Secara bahasa, al-Irja’ memiliki dua makna[9]:
Pertama, bermakna ta’khir (mengahirkan atau menunda), sebagaimana firman Allah:
قَالُواْ أَرْجِهْ وَأَخَاهُ وَأَرْسِلْ فِي الْمَدَآئِنِ حَاشِرِينَ
“Pemuka-pemuka itu menjawab: "Beri tangguhlah dia dan saudaranya serta kirimlah ke kota-kota beberapa orang yang akan mengumpulkan (ahli-ahli sihir)”. (QS. Al-A’raf: 111)
Kedua, memberikan harapan (sebalikan dari putus asa), sebagaimana firman Allah:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ هَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أُوْلَـئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللّهِ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Baqarah: 218)
Sedangkan menurut istilah, Sufyan bin ‘Uyainah berkata: “Adapun Murji’ah mengatakan, iman adalah pengakuan tanpa dibarengi dengan perbuatan. Barangsiapa mengatakan: Aku bersaksi, tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Allah dan aku bersaksi, Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, maka ia Mukmin yang sempurna imannya. Imannya seperti imannya jibril dan mala’ikat. Meski ia melakukan pembunuhan terhadap ini dan itu, ia tetap Mukmin, meskipun ia tidak mandi junub dan meninggalkan shalat. Mereka berpendapat boleh memerangi ahli kiblat.
Kelompok ini dalam memaknai iman ada empat golongan, diantaranya adalah:


Ø  Pertama: Murji’ah Jahmiyyah
Kelompok ini meyakini bahwa iman itu hanya sebatas keyakinan hati, pendirinya adalah Jahm bin Shofwan, Adapun Jahm bin Shofwan terkenal memiliki empat keyakinan(aqidah) yang bid’ah, diantaranya adalah:
1)      Aqidah yang menafikan sifat, kemudian diambil oleh jahmiyyah.
2)      Aqidah irja’, kemudian diambil oleh murji’ah.
3)      Aqidah jabar, kemudian diambil oleh jabariyah.
4)      Aqidah yang mengatakan bahwa surga dan neraka itu akan fana dan tidak kekal.[10]
Inilah empat keyakinan buruk shofwan bin jahm yang sudah terkenal, adapun murji’ah mahdhoh ini, aqidah mereka dalam keimanan hanya sebatas pengetahuan, maksudnya adalah hanya mengenal rabb di hati saja, mereka meyakini bahwa barangsiapa yang mengenal rabbnya dalam hatinya cukup dikatakan mukmin, dan ia tidak kafir kecuali hatinya tidak mengenal rabbnya. Oleh karena itu ulama’ membantah hal ini, seandainya demikian maka iblis juga mukmin, dikarenakan ia mengenal rabbnya, sebagaimana firman Allah yang berbunyi:
قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan". (QS. al-A’raf: 14)
Kalau begitu juga fir’aun mukmin karena ia mengetahui rabbnya dalam hatinya sebagaimana firman Allah:
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ
“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan”. (QS. An-Naml: 14)       


Ø  Kedua: Murji’ah Karamiyah
Mereka adalah Muhammad bin Karam dan para pengikutnya. Mereka berkeyakinan bahwa iman hanya sebatas pembenaran lisan semata. Maksudnya, barangsiapa yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat, maka ia dianggap seorang mukmin yang sempurna imannya. Tidak peduli kepada keadaan hati dan amalan anggota badannya. Ia dianggap mukmin, sekalipun hatinya mengingkari adanya Allah, atau meyakini adanya dzat selain Allah yang berhak diibadahi. Bahkan, sekalipun ia menyembah berhala, matahari, atau pohon yang dikeramatkan, ia tetap dianggap seorang mukmin selama mengucapkan dua kalimat syahadat. Keyakinan kelompok ini sangat jelas kerusakannya dan kesesatannya. Akidah ini menyamakan orang munafik dan musyrik dengan seorang mukmin. Kesesatan kelompok ini lebih parah dari kesesatan kelompok murjiah fuqoha’.[11]
Menurut mereka orang Munafik itu beriman, hal ini bertentangan dengan firman Allah yang berbunyi:
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ
“Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian ," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Baqarah: 8)
Allah juga berfirman:
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لاَ يَحْزُنكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ قَالُواْ آمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِن قُلُوبُهُمْ
“Hari Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka:"Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman”. (QS. Al-Maidah: 41)

Ø  Ketiga: Murji’ah Asya’irah
Kelompok ini meyakini bahwa iman itu hanya sebatas keyakinan dalam hati adapun perbuatan hati tidak masuk pada keimanan, yang melopori keyakinan ini adalah Abu Hasan al-Asy’ari dan inilah perkataan yang sangat terkenal darinya. Ia hanya memaknai iman dari segi bahasa saja tanpa mengambil istilah yang syar’e.

Ø  Keempat: Murji’atul Fuqaha’
Kelompok ini meyakini bahwasanya iman menurut mereka adalah hanya sebatas pengucapan dengan lisan dan meyakini dengan hati, dan perbuatan dengan anggota badan tidak termasuk pada keimanan, keimanan menurut mereka tidak berkurang dan tidak bertambah.
Mereka tidak mengatakan bahwa iman itu akan bertambah sebagian dan berkurang sebagian, sebagaimana sabda Rasul SAW yang berbunyi:
أَخْرِجُوا مِنْ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ
"Keluarkan dari neraka siapa yang didalam hatinya ada iman sebesar biji sawi". (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)
Yang pertama kali mengadopsi pemikiran ini adalah Dzar bin Abdullah al-Marhibi, Hamad bin Sulaiman (gurunya imam Abu Hanifah), dan Amru bin Marra al-maraadi. Oleh karena itu imam Abu Hanifah kebawa oleh gurunya kemudian ia berpemahaman demikian, ia mengatakan bahwa iman itu tidak bertambah dan berkurang (dalam kitabnya Fiqhul Akbar).
Yang banyak dipermasalahkan oleh kebanyakan ulama’ pada saat ini adalah apakah berbedaan pendapat antara MURJI’AH FUQAHA’ dengan AHLUS SUNNAH itu perbedaan secara lafdzi atau maknawi?
Dalam hal ini kebanyakan Ulama’ menjawab bahwa berbedaan ini bukan hanya perbedaan secara lafdzi, akan tetapi ini merupakan perbedaan maknawi, inilah pendapat yang dirojihkan juga oleh Syaikh Nashiruddin Al-Bani dan Ulama’ yang lain.

Kelompok kedua: Khawarij dan Mu’tazilah
            Secara khusus khawarij adalah sebuah kelompok yang keluar dari Ali bin Abi Tholib setelah peperangan shiffin dan setelah menerima tahkim, mereka mengkafirkannya dan juga mengkafirkan Mu’awiyah, dan mengkafirkan kedua belah pihak yang melakukan tahkim serta mengkafirkan orang yang ridho atas tahkim, ia juga mengkafirkan Utsman dan kaum Muslimin yang mengikuti perang Jamal.
            Namun pengertian secara umum khawarij adalah sebuah kelompok yang memiliki dua sifat sebagaiberikut, diantaranya adalah:
1.      Kelompok yang keluar dari imam yang adil.
2.      Mengkafirkan belaku dosa besar, dan bertentangan dengan akal.
   Sedangkan Mu'tazilah berasal dari kata 'azala–ya'taziluhu 'azlan wa'azalahu fa'tazala wa-in'azala wa-ta'azzala yang artinya menyingkir atau memisahkan diri. [Lisanul Arab 11/440].
Secara istilah Mu'tazilah berarti sebuah sekte sempalan yang mempunyai keyakinan lima pokok keyakinan (al ushul   al-khamsah), meyakini dirinya merupakan kelompok moderat  di antara dua kelompok ekstrim yaitu Murjiah yang menganggap pelaku dosa besar tetap sempurna imannya dan Khowarij yang menganggap pelaku dosa besar telah kafir.[Al Milal Wa Nihal: 47-48].
Mu'tazilah adalah firqah dari ahli kalam yang menyelisihi ahli sunnah terhadap sebagian keyakinan, tokohnya adalah washil bin atha' yang mengasingkan diri dari halaqah hasan al basyri.
            Kedua kelompok di atas dalam mengartikan iman, sama dengan apa yang diartikan oleh ahlus sunnah wal jama’ah, yaitu iman itu berdasarkan ucapan, perbuatan dan keyakinan. Akan tetapi yang berbeda mereka menyakini bahwa iman itu adalah suatu yang satu tidak bercabang, apabila sebagian tiada maka tiadalah semuanya dan apabila sebagian ada maka semuanya ada.
            Kelompok khawarij berkeyakinan bahwa apabila seseorang keluar dari iman, misalnya denan melaksanakan dosa besar atau melakukan maksiat, maka ia kafir dan pada hari kiamat ia kekal dalam Neraka. Sedangkan kelompok mu’tazilah berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar itu keluar dari iman namun ia tidak kafir (Al Manzilah Baina al Manzilatain), akan tetapi pada hari kiamat ia kekal di Neraka.

Kedua: Iman Itu Bertambah Dan Berkurang (يزيد وينقص)
            Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa ucapan dan perbuatan itu masuk dalam katagori Iman. Adapun iman itu bertambah dan berkurang ia akan bertambah apabila dipergunakan ta’at pada Allah dan ia akan berkurang apabila ia menta’ati syetan. Yang dijadikan dasar oleh Ahlus sunnah dalam keyakinan ini adalah:
Dari Al-Qur’an:
فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُواْ فَزَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
“Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira”. (QS. At-Taubah: 124)
Firman Allah juga:
لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَاناً
“supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya”. (QS. Al-Mudzatsir: 31)
Firman Allah juga:
هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَاناً مَّعَ إِيمَانِهِمْ
“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu'min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS. Al-Fath: 4)
Firman Allah juga:
وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَاناً وَتَسْلِيماً
“Dan tatkala orang-orang mu'min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita". Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)
Dari as-Sunnah:
الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ
"Iman itu ada tujuh puluh tiga sampai tujuh puluh sembilan, atau enam puluh tiga sampai enam puluh sembilan cabang. Yang paling utama adalah perkataan, LAA ILAAHA ILLALLAHU (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah). Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu adalah sebagian dari iman." (HR. Bukhari dan Muslim)
Sabda Rasul juga
يَدْخُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ وَأَهْلُ النَّارِ النَّارَ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَخْرِجُوا مِنْ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ
"Ahlu surga telah masuk ke surga dan Ahlu neraka telah masuk neraka. Lalu Allah Ta'ala berfirman: "Keluarkan dari neraka siapa yang didalam hatinya ada iman sebesar biji sawi".[12]
Sabda Rasul Juga:
مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ قُلْنَ وَمَا نُقْصَانُ دِينِنَا وَعَقْلِنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَلَيْسَ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُلِ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا
“Dan aku tidak pernah melihat dari tulang laki-laki yang akalnya lebih cepat hilang dan lemah agamanya selain kalian." Kami bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, apa tanda dari kurangnya akal dan lemahnya agama?" Beliau menjawab: "Bukankah persaksian seorang wanita setengah dari persaksian laki-laki?" Kami jawab, "Benar." Beliau berkata lagi: "Itulah kekurangan akalnya. Dan bukankah seorang wanita bila dia sedang haid dia tidak shalat dan puasa?" Kami jawab, "Benar." Beliau berkata: "Itulah kekurangan agamanya." (HR. Bukhari)
Perkataan Salaf
Abu Hurairah berkata: “Iman itu bertambah dan berkurang”
Berkata Imam Abdur Razzak as-Shon’ani: “Adapun Ma’mar dan Ibnu Juraij dan as-Tsauri dan Malik dan Ibnu ‘Uyainah mereka berkata: (Iman itu Ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang).”
Mujahid bin Jabar Rahimahumullah berkata: Iman adalah ucapan dan perbuatan, ia bertambah dan berkurang[13].”
Imam Malik berkata: “Iman adalah ucapan dan berbuatan[14].”
Ibnu Taimiyyah berkata dalam kitab al-Iman: Telah ditetapkan lafadz bertambah dan berkurang pada masa sahabat, dan tidak ada perbedaan diantara mereka.
Dalam Majmu’ fatawa ia berkata: Ulama’ salaf telah sepakat bahwa iman itu berdasarkan ucapan dan perbuatan ia bertambah dan berkurang.[15]
Imam Al-Bagawi dalam kitab Syarhus Sunnah berkata: Para sahabat dan Tabi’in serta ulama’ lainnya dari kalangan ahlus sunnah, bahwasanya perbuatan (amal) itu bagian dari iman…. Sampai berkataannya, sesungguhnya iman itu adalah ucapan dan perbuatan dan aqidah, ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat sebagaimana yang dikabarkan al-Qur’an dan hadits atas bertambahnya.[16]

v  Faktor bertambahnya iman

1)      Merealisasikan Tauhidullah (Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma’ dan Sifat), semakin seseorang itu bertambah pengetahuannya kepada Allah, maka akan bertambah pula keimanannya.
2)      Memperhatikan ayat-ayat Allah, baik secara kauhiyyah maupun syar’iyah
Allah berfirman:
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17) وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ (18) وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (19) وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ (20)
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan,(18)  Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?(19)  Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?(20)  Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?”. (QS. Al-Ghosyiah: 17-20)
Allah juga berfirman:
قُلِ انظُرُواْ مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا تُغْنِي الآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَن قَوْمٍ لاَّ يُؤْمِنُونَ
“Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfa'at tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman". (QS. Yunus: 101)

3)      Mentadaburi al-Qur’an, mempelajari, membacanya, menghafalnya, dan mengamalkannya, dan berhukum dengannya.
4)      Mengikutin Nabi SAW, dengan mengetahui sunnahnya, sejarahnya dan akhlaknya.
5)      Meninggalkan maksiat dan perbuatan bid’ah hanya untuk mendekatkab diri kepada Allah, dan menjauhi apa-apa yang mengantarkan kesana.
Ibnu Taimiyyah berkata: “ Apabila manusia itu terjerat pada sebuah kebid’ahan dan maksiat, maka berkuranglah imannya….. oleh karena itu para sahabat radiallahu anhum mereka adalah orang yang paling jauh dari dosa dan bid’ah dikarenakan mereka memiliki ilmu dan iman kepada Allah serta apa yang di dapat dari Rasulullah SAW, dan tidak seorangpun yang melaksanakan sebuah kebid’ahan kecuali ia akan kurang dalam mengikuti sunnah secara ilmu dan perbuatan.
6)      Melaksanakan keta’atan, baik yang wajib maupun sunnah sebanyak mungkin.
7)      Menerima pada kehidupan di akhirat dan berusaha atasnya, dan berbuat zuhud di dunia.
8)      Berdo’a serta memohon sungguh-sungguh untuk mendapatkan hidayah dan keteguhan.
9)      Membaca sejarah para sahabat dan salaf serta meneladaninya.[17]

v  Faktor berkurangnya iman (kebalikan dari yang di atas)
1)      Enggan untuk mengenal Allah baik dari tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma’ dan Sifat-Nya.
2)      Enggan untuk memperhatikan ayat-ayat Allah, baik secara kauniyyah dan syar’iah.
3)      Sedikitnya amalan sholeh yang dikerjakan.
4)      Melaksanakan kemaksiatan.
Perlu kita ketahui bahwa kurangnya keimanan itu terbagi menjadi dua bagian, diantaranya adalah:
Pertama: kekurangan yang tidak perpengaruh bagi pelakunya, seperti kurangnya agama perempuan dengan meninggalkan shalat pada masa-masa haid, dikarenakan ini bukan di atas kehendaknya. Jika ada yang berkata, biarkanlah saya shalat agar iman saya tidak kurang, maka ini sebuah keharaman, justru kalau ia shalat kekuarangan bagi imannya akan bertambah banyak. Ini adalah kekurang yang tidak dicela dan tidak mengapa.
Kedua: kekurangan yang sifatnya pilihan bagi pelakunya, ini juga terbagi menjadi dua bagian:
*      Apabila disebabkan maksiat atau meninggalkan sebuah kewajiban maka ini berdosa dan tercela.
*      Apabila kekurangannya dikarenakan meninggalkan yang sunnah (yang bukan wajib) maka ini bukan suatu yang dicela dan juga tidak berdosa.

Kelompok yang menyelisihi Ahlus Sunnah dalam permasalahan ini
Kelompok yang pertama: Murji’ah
            Kelompok ini berkeyakinan bahwa iman itu tidak bertambah dan berkurang; dikarenakan perbuatan (amal) menurut mereka bukan bagian dari iman, sampai bertambah dan berkurang, maka iman menurut mereka adalah hanya sebatas pengakuan saja, dan pengakuan itu tidak bertambah dan berkurang.
Pendapat ini selaras dengan perkataan Abu Hanifah dalam kitabnya Fikhul Akbar, yang berbunyi: “Iman itu tidak bertambah dan berkurang[18]”.

Bantahan atas kelompok ini
1.      Tidak memasukkan perbuatan (amal) pada keimanan ini bukan suatu yang benar, dikarenakan iman itu masuk dalam katagori keimanan, kami telah menyebutkan dalil-dalilnya pada pembahasan “iman itu berdasarkan ucapan dan perbuatan”.
2.      Jika mereka mengatakan bahwa pengakuan dalam hati itu tidak bertambah dan berkurang: ini juga tidak benar, justru pengakuan dengan hati itu juga bertingkat-tingkat. Tidak mungkin seseorang mengatakan, imanku seperti imannya Abu Bakar!! Tentu ia akan bilang, sungguh keimananku seperti imannya Rasulullah SAW.
Maka kami katakan: Bahwa pengakuan dalam hati itu bertingkat-tingkat; maka pengakuan dalam hati dari satu sumber itu tidak sama dengan yang dari dua sumber, dan pengakuan dari apa yang ia dengar tidak sama dengan pengakuannya dari yang ia lihat. Tidaklah kalian dengar perkataan Ibrahim, sebagaimana dalam firman Allah:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِـي الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِن قَالَ بَلَى وَلَـكِن لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِي
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati." Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu ?" Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).” (QS. Al-Baqarah: 260)
            Maka ini adalah sebuah dalil bahwasanya keadaan iman dalam hati itu bertambah dan berkurang.
Oleh karena itu umala’ membagikan derajat yakin itu terbagi menjadi tiga bagian, diantaranya adalah: ILMU YAKIN, ‘AINUL YAKIN, HAQQUL YAKIN. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi:
كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ (5) لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (6) ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (7)
“Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, Dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin[19]. (QS. At-Takatsur: 5-7)
Kemudian firman Allah juga:
وَإِنَّهُ لَحَقُّ الْيَقِينِ
“Dan Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar kebenaran yang diyakini.” (QS. Al-Haqqah: 51)

Kelompok yang kedua: Khawarij dan Mu’tazilah
Kelompok khawarij berkeyakinan bahwa apabila seseorang keluar dari iman, misalnya denan melaksanakan dosa besar atau melakukan maksiat, maka ia kafir dan pada hari kiamat ia kekal dalam Neraka. Sedangkan kelompok mu’tazilah berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar itu keluar dari iman namun ia tidak kafir (Al Manzilah Baina al Manzilatain), akan tetapi pada hari kiamat ia kekal di Neraka.

            Sebenarnya permasalahan ini sudah menjadi kesepakatan ulama’ salaf, diantara yang sepakat dari hal ini adalah:
perkatan Abu ‘Ubaid al-Qosim bin salam, dalam kitabnya al-iman.
Beliau mengatakan “Adapun yang menamakan bahwa iman itu atas dasar ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang, adalah sebagai berikut.
Dari ahli Makkah: Ubaid bin Umair al-Laitsi, Atho’ Ibnu Abi Robah, Mujahid bin jabr, Ibnu Abi Mulaikah, Amru bin Dinar, Ibnu Abi Najih, Ubaidullah bin Umar, Abdullah bin Amr bin Utsman, Abdul Malik bin Jarih, Nafi’ bin Jubair, Daud bin Abdur Rahman al-‘Aththor, Abdullah bin Raja’.
Dari ahli Madinah: Muhammad bin syihab az-zuhri, Robi’ah Ibnu Abdir rahman, Abu Hazim al-a’raj, Sa’at bin Ibrahim bin Abdur Rahman bin Auf, Yahya bin Said al-Anshori, Hisyam bin Urwah bin Zubair, Abdullah bin Umar al-Umri, Malik bin Anas, Muhammad Ibnu Abi Dzi’bin, Sulaiman bin Bilal, Abdul Aziz bin Abdullah, Abdul Aziz bin Abi Hazim.
Dari ahli Yaman: Thawus al-Yamani, Wahb ibnu Munabbih, Ma’mar bin Rosyid, Abdur Razak bin Hammam.
Dari ahli Mesir dan Syam: Makhul al-Auza’i, Said bin Abdil Aziz, Walid bin Muslim, Yunus bin Yazid al-Aili, Yazid bin Abi Habib, Yazid bin Syareh, Said bin Abi Ayyub, Laits bin Said, Abdullah bin Abi Jakfar, Mu’awiyah bin Abi Sholih, Hiwat bin Syareh, Abdullah bin Wahab.
Yang tinggal di kota dan Negara lain: Maimun bin Mihran, Yahya bin Abdulkarim, Ma’kil bin Ubaidillah, Ubaidillah bin Amr ar-roqi, Abdul Malik bin Malik, Mu’afi bin Imran, Muhammad bin Salamah al-Harrani, Abu Ishaq al-Fazari, Mukhlid bin Husain, Ali bin Bakkar, Yusuf bin Asbat, ‘Atha’ bin Muslim, Muhammad bin Katsir, Haisyam bin Jamil.
Dari Ahli Kuffah: ‘Alqamah, Aswad bin Yazid, Abu Wail, Said bin Jubair, Rabi’ bin Husyaim, Amir as-sya’bi, Ibrahim an-Nakha’I, Hakam bin Utaibah, Tholhah bin Musarrif, Manshur bin Mu’tamir, salamah bin kuhail, Mugirah ad-dhobi, ‘Atho’ bin Saib, Isma’il bin Abi Kholid, Abu Hayyan, Yahya bin Said, Sulaiman bin Mihran, al-A’masy, Yazid bin Abi Ziyad, Syufyan bin Said as-tsauri, Sufyan bin ‘Uyainah, Fudhail bin Iyad, Abul Miqdam, Tsabit bin ‘Ajlan, Ibnu Syabramah, Ibnu Abi Laila, Zuhair, Syarik bin Abdillah, Hasan bin Sholeh, Hafs bin Giyats, Abu Bakar bin ‘Ayyas, Abul Ahwas, Waki’ ibnu Jarrah, Abdullah bin Numair, Abu Usamah, Abdullah bin Idris, Zaid bin Khobab, Husain bin Ali al-Ja’fi, Muhammad bin Bisyr al-‘abdi, Yahya bin Adam, Muhammad, Ya’la, Amru banu Ubaid.
Dari ahli Bashrah: Hasan bin Abi Hasan, Muhammad bin Sirrin, Qotadah bin Di’amah, Bakar bin Abdillah al-Muzani, Ayyub as-syahtiyani, Yunus bin Ubaid, Abdullah bin Aun, Sulaiman at-Taimi, Hisyam bin Hassan ad-Dustuwa’i, Syu’bah bin Hajjaj, Hammad bin Salamah, Hammad bin Zaid, Abul Asyhab, Yazin bin Ibrahim, Abu ‘Awanah, Wahib bin Khalid, Abdul Waris bin Said, Mu’tamir bin Sulaiman at-Taimy, Yahya bin Said al-Qathon, Abdur Rahman bin Mahdi, Bisyr bin Mufaddhol, Yazid bin Zurai’, Mu’awwil bin Isma’il, Kholid bin Haris, Mu’ad bin Mu’ad, Abu Abdur Rahman al-Muqri.
Dari ahli Wasit: Hasyim bin Basyir, Khalid bin Abdullah, Ali bin Ashim, Yazid bin Harun, Sholeh bin Umar bin Ali bin Ashim.
Dari ahli Masyrik: Dhohhak bin Muzahim, Abu Hamzah, Nasr bin Imran, Abdullah bin Mubarak, Nadr bin Syamil, Jarir bin Abdul Hamid.
Abu Ubaid berkata bahwa mereka semua yang mengatakan bahwa “iman itu ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang”, dan inilah yang dipilih oleh ahlus sunnah wal jama’ah yang berlaku bagi kami.[20]

penutup
            Demikianlah tadi sekilas pembahasan tentang makna Iman, sebenarnya masih banyak kekurangan akan tetapi karena keterbatasan maraji’ dan pengetahuan kami, akhirnya sampai disini saja.
Kesimpulan dari makalah ini adalah Ulama’ telah sepakat, baik yang salaf maupun yang khalaf bahwa iman itu berdasarkan ucapan maupun perbuatan, yang dimaksud ucapan adalah ucapan hati dan lisan, dan yang dimaksud dengan perbuatan adalah perbuatan hati dan anggota badan. Ia bertambah dengan ketaatan dan banyak ibadah, dan ia berkurang dengan maksiat dan kelalaian. Inilah yang membedakan perkataan ahlus sunnah wal jama’ah denga kelompok ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu serta kelompok sesat lainnya.
Kami bermohon, semoga Allah Subhaanahu Wa Ta'ala memberi pahala terhadap setitik yang benar dari tulisan ini dan mengampuni terhadap segala kesalahan dan kekeliruan.
Akhir kalam kami memanjatkan puji dan syukur kehadirat Illaahi Robbi, bahwasannya kami dapat menyelesaikan tulisan ini walaupun masih sangat sederhana dan perlu penyempurnaan. Oleh karena itu kami sebagai seorang penulis (dalam tahap pembelajaran) membutuhkan saran dan kritik kepada para pembaca khususnya pembimbing kami yang kami hormati Ust. Farid Ahmad Oqbah guna menyempurnakan kekurangan  dalam penulisan Makalah ini.
Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta'ala senantiasa menunjukkan kita semua kepada jalan yang Ia ridhoi dan diselamatkan dari hal-hal yang keliru, Amin.
Referensi
Al-Qur’an dan terjemah
Dr. Muhammad bin Musa al Nashr, al-Intishor Bisyarhi ‘Aqidati ‘Aimmatil Amshor, (daar al-atsariyah).
Abu ‘Ashim, Mukhtashor Ma’arijul Qabul,(Mesir: Daar as-shofwah, 1427 H), cet. Ke-XI.
Syeikh Utsaimin, Syarh Aqidah Al-Washitiyyah, (Beirut: Maktabah Hikam ad-Diniyah, 1424 H), cet. Ke-II.
Syaikh ‘Utsaimin, Syarah Aqidah as-Safaraniah, (Kairo: Daar al-Aqidah, 1427 H), cet. Ke-I.
Asy-Syahrastani, Al-Milal wa an-Nihal, (Beirut: Daar al-Fikr, 1428-1429 H).
Ibnu Hajar al-‘Atsqolani, Fathul Bari Bisyarhi Shoheh al-Bukhari, (Kairo: Daar al-Hadits, 1424 H) juz. I.
Abu Zaid bin Muhammad Haki, Maadah Maqalatil Firaq, (Jeddah: Daar al-Kharraz, 1429), Juz. I.
Ummu Tamim Izzah binti Rasyad, Menyingkap Aliran dan Paham Sesat, (Jakarta: Pustaka Imam Ahmad, 2009), cet. I.
Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Gunaiman, Ali bin Nafi’ al-‘Ulyani, Aqwalut Tabi’in fie Masa’ilit Tauhid wal Iman, (Riyad: Daar at-Tauhid, 1424), cet. Ke-I,
Muhammad bin ‘Abdirrahman al-Khumayyiz, I’tiqadul ‘Aimmah al-Arba’ah, (Riyad: Daar al-‘Ashimah, 1412 H), cet. Ke-I
Al-Lalika’I, Syarah Usulu I’tiqaadi Ahlus Sunnah wal Jama’ah, (Kairo: Daar al-Hadits, 1425 H), cet. Ke-I, juz. 1.
Abu laila, Abu Fatiah al Adnani, Mizanul Muslim, (Solo: Pustaka Cordova, 2009), cet. Ke-III,


[1] Abu ‘Ashim, Mukhtashor Ma’arijul Qabul,(Mesir: Daar as-shofwah, 1427 H), cet. Ke-XI, hal. 177
[2] Syeikh Utsaimin, Syarh Aqidah Al-Washitiyyah, (Beirut: Maktabah Hikam ad-Diniyah, 1424 H), cet. Ke-II, hal. 386
[3] Syaikh ‘Utsaimin, Syarah Aqidah as-Safaraniah, (Kairo: Daar al-Aqidah, 1427 H), cet. Ke-I, hal. 357.
[4] Al-Lalika’I, Syarah Usulu I’tiqaadi Ahlus Sunnah wal Jama’ah, (Kairo: Daar al-Hadits, 1425 H), cet. Ke-I, juz. 1, hal. 135.
[5] Ibnu Taimiyyah, Majmu’ al-Fatawa, juz. VII, hal. 308.
[6] Ibid, hal. 505.
[7] Abdullah bin Hamid al-Atsari, al-Imanu Haqiqatuhu Hawarimuhu Nawaqiduhu ‘Inda Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal. 27.
[8] Ibid.
[9] Asy-Syahrastani, Al-Milal wa an-Nihal, (Beirut: Daar al-Fikr, 1428-1429 H), hal. 112.
[10] Abdul ‘Aziz Bin ‘Abdullah Ar’rajihi, As ilah wa ujubah fi al-Iman wal kufur,  hal.13.
[11] Abu laila, Abu Fatiah al Adnani, Mizanul Muslim, (Solo: Pustaka Cordova, 2009), cet. Ke-III, Hal. 170-171.
[12] HR. Bukhari(44), Muslim(193), Ahmad(3/173).
[13] Abdullah bin Hamid al-Atsari, al-Imanu Haqiqatuhu Hawarimuhu Nawaqiduhu ‘Inda Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal. 26.
[14] Ibid, hal.27.
[15] Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Gunaiman, Ali bin Nafi’ al-‘Ulyani, Aqwalut Tabi’in fie Masa’ilit Tauhid wal Iman, (Riyad: Daar at-Tauhid, 1424 H), cet. Ke-I, hal. 1204.
[16] Ibid.
[17] Dr. Muhammad bin Musa al Nashr, al-Intishor Bisyarhi ‘Aqidati ‘Aimmatil Amshor, (daar al-atsariyah), hal. 52-53.
[18] Muhammad bin ‘Abdirrahman al-Khumayyiz, I’tiqadul ‘Aimmah al-Arba’ah, (Riyad: Daar al-‘Ashimah, 1412 H), cet. Ke-I, hal. 19.
[19] 'Ainul yaqin artinya melihat dengan mata kepala sendiri sehingga menimbulkan keyakinan yang kuat.
[20] Ibnu Taimiyyah, Majmu’ Fatawa, hal. 309-311.

COMMENTS

Iklan Konten$show=post

loading...

Artikel Terbaru$type=three$author=hide$comment=hide$rm=hide$show=post$cate=2$count=9$pagination=5

Nama

'Umdatul Ahkam 25 november 4 nove 4 november aa gym aadc2 Abdul Chair Ramadhan abu bakar ashidiq aceh Adab ade armando ade komaruddin adik ahok administrasi adsense advertorial afrika aher ahmad baidhowi ahmad dhani ahmad zainuddin ahok ahok djarot ahok illuminati ahokers akhlak akmal sjafril aksi bela islam iii Al Hikmah al quran palsu al umm al washiliyah al-quran Alex Naddour alfian tanjung ali bin abi thalib ali jaber aliansi pemuda makassar aliran sesat allepo alwi shihab am fatwa amerika amien rais amir faishol fath amir hamzah an najah anis baswedan anis dan sandiaga anton medan anton tabah antv april Aqidah aqidah syiah arab saudi archandra ariana grande arief rahman arifin ilham arik banyadhu artikel ilmiah Artikel Ramadhan atmiwiloto australlia bab thoharoh bachtiar nasir backmasking badai pasir arab saudi balaraja band bandung bangka belitung bangkalan bangladesh banjar banjarmasjin bank banten banyuwangi barcelona bareskrim bashar asad bawaslu bbc beasiswa beasiswa iain antasari beasiswa kuwait beasiswa tahfidz beasiswa turki bedah buku syiah bekal dakwah bekam bekasi berita bid'ah bima arya bin bina qalam biografi bireun Bisnis Online bitung blog tutorial bmh bmh jatim bmh lumajang bnn bnpt bogor bom saudi bpi bpjs brebes britney spears brunei buddha budha bukit duri buku buku gratis Buletin bungkul buni yani burhan shodiq bus pendemo buya hamka buya yahya cadar cakung cangkul car free day cba Ceramah charlie hebdo china cholil nafis cholil ridwan cilacap cina colil ridhwan cut nyak din dahnil anzar darul hijrah dasrul Data Kesesatan Syi'ah dauroh ddi debat bahasa arab internasional mesir dede demo tolak ahok demonstrasi densus 88 depok detik didin hafidhuddin dimas kanjeng din syamsuddin dina y sulaeman djarot do'a donald frans donald trump Download dprd dr miftah el banjari dr tiar dr zakir naik Dr. Adian Husaini Dr. Ahmad Zain An-Najah dr. aidh al qarni dr. warsito dream dzan farid dzulhijjah emilia renita erdogan Esra Panese event facebook fadel muhammad fadl zon fahira idris fahri hamzah fakta fans celtic farid okbah fatih seferagic Featured felix siauw ferdinand hutahean ferihana filipina film Fiqih fiqih dakwah fiqih haji fiqih ihram fiqih jenazah fiqih jihad fiqih jual beli fiqih madzhab imam syaf'i fiqih nikah fiqih puasa fiqih qurban firanda andirja florida foto Foto-Foto kesesatan Syi'ah fpi freddy budiman gafatar gajah gallery gambar game online game pes garut gatot nurmantyo gaza gerhana matahari gerindra Gilbert Lumoindong globaltv golkar gontor google gp anshor gresik gubernur ntb guru gus manan gus sholah habib rizieq hacker Hadits hadyu hafidz quran haiti halal.ad ham hamdan zoelva hari pancasila Harits Abu Ulya hartoyo harvard hary tanoesoedibjo headline hidayat nur wahid hidayatullah hikmah hmi hollywood hukum seputar ta'ziyah husain syahid husni thamrin hut ri 71 ibadah ibnu khaldun ibu saeni ical idc ihw ikhsan modjo iklan ilc 8 november illuminati Ilmu Faroidh ilyas karim imam masjid al aqsa imamah imunisasi india indonesia indramayu inews info kajian inggris insan mokoginta inspiratif intermezo internasional ipb ipw irak iran irena handono irlandia Islamophobia islandia israel istanbul istiqlal istri ahok istri gus dur jabar jack ma jakarta jakut jamaah tabligh janet jackson jas jatim jawa barat jawa timur Jayawijaya Jeffry Winters jember jepang jerman jihad jihad internasional jil jilbab jk jokowi jokowi dan ahok jonru jpnn Kabar Muslim Burma 2012 kalbar kalimantan kammi kampung rambutan kanada Kapolda kapolri kapry nanda karawang kashmir kasih keluarga Kemendag kenan nabil kereta cepat kesehatan KH Ali Mustafa Ya'qub KH Hasyim Muzadi kh. abdur rasyid khairul anwar Khutbah jum'at Kiamat king abdul aziz king saudi university kiriman pembaca kisah kisah hikmah kisah para nabi kivlan zen kiwil knrp koko kolombia komnas ham komnas perempuan kompas kompastv komunis koneksi kopi jessica korea utara kotamabagu kpai kpk kpu kristen kristenisasi kristologi ktp kuba kuburan kuliner kurma iran kutab al fatih kyai nur labuhbatu Lain-lain lalu heru rojak lampung Laurence Rossignol lbh paham lenteng agung lgbt liberal Liberalisme Lieus sungkharisma lipia lira lomba lomba tahfidz lombok london luar batang lucky hakim Lucu luhut lukman hakim luthfi bashori ma'ruf amin mabuk madina madrasah madura magelang mahfud md Makalah Menarik Makalah Thoharoh makassar make money blog malang malaysia maluku manado mark zuckberg maroko marwah daud marzukie alie masjid nabawi mataram medan media mainstream megawati menag menakjubkan mendagri mengerikan menhan merdeka mesir metrotv minahasa miras mizanul muslim mnctv mpr ms kaban muallaf muda mudi mudik 2016 muhammad ali muhammad taufik muhammadiyah muharram muhasabah mui mukidi mukjizat mulyono munarman musa musik muslim uyghur muslimah Musthalahaat al-fuqaha’ wal ushuliyin Mustholahul Hadits Mustolahat Fil fiqh myanmar nabil narkoba nasi uduk babi nasyiatul aisyiyah natal new york nigeria niken taradina ntb nu nur tajib nusairiyah nusantara nushairiyah nushron wahid oemar mita oezil olahraga omran opini ozil padang Paham Sesat pajak pakistan palestina palu pamekasan pan Panduan Ibadah Qurban pangeran harry pangi syarwi chaniago papua paris pasar ikan patani pbnu pdip pekerja asing Pemerintah Indonesia pendeta cabul pendeta vatikan pendidikan penemu muslim pengungsi suriah penjaringan penyerangan polisi tangerang perda islam pers persis pesantren petisi pilkada dki jakarta pki pks Pluralisme pokemon polisi politik ponorogo pontianak poso pp muhammadiyah ppp prabowo prancis probolinggo Prof DR Abdul Hadi profil proxy war psq puisi punk purbalingga purworejo pushami pwnu qishash quraish shihab rachmawati rawajati rcti reklamasi retorika dakwah revenuehits Rezim Penguasa riau ridwan kamil rifkoh abriani rio haryanto risma Riyadh Badr Bajrey rizal ramli robithoh alam islami rohingya rokok ronaldo rudal jokowi ruhut rumah tangga rusia Sahabat sahabat nabi said aqil sains salafy indonesia salib mampang salibis salim a. fillah samarinda sambudi sampang sandiago uno santoso santri sayidiman suryohadiprojo sby sd cilegon Sejarah sekjen pbb sekte dan aliran Sekularisme selandia sepak bola Shahnaz Laghari shalawat badar shalawat nabi shared2earn sidoarjo simposium anti pki siroh siyono skotlandia Slank sma soekarno solo spanyol spbu sragen stand up comedy stevanus stiba makassar subang sudan sukabumi sukmawati sulawesi sulteng sumbar sumedang sumsel sumut surabaya suriah surya prabowo susanto swedia syafii maarif syaikh sudais Syarh 'Umdatul Ahkam Syarh Matan Thawiyah syariat islam syarifah salsabila Syiah syiah mencela nabi muhammad syiah mencela sahabat syiah menghina muawiyah syiah mengkafirkan aisyah syiah mengkafirkan asyariyah syiah mengkafirkan sahabat syiah suriah syiah takfiri syirik syubhat pengagung kubur Syubhat Sejarah Rosululloh SAW Tabi'in Tabi'ut Tabi'in Tafsir tafsir al maidah tahukah? takbir keliling tangerang tanjungbalai tawasul Tax Amnesty Tazkiyyatunnafs tebet tebingtinggi teknologi tema ceramah tema dakwah teman ahok tempelate blog tempo tengger Tengku Erry Nuradi terbaru tere liye Terjemahan kitab Musthalahaat al-fuqaha’ wal ushuliyin terompet dari sampul al quran teroris teroris separatis terorisme terorisme medan teuku nasrullah teungku zulkarnain thailand thibun nabawi timor leste tionghoa tiongkok Tips tki tni tni au keroyok jamaah masjid trans7 Tsaqofah tuban tulisan turki tutorial tvone tvri uea ui uighur uika bogor uim uin ulil ullcok Ulumul Quran umroh gratis unas unesco Unik universitas islam madinah universitas paramadina unj Ushulul Fiqh ust. budi ashari ust. zaitun rasmin ust. zulkifli vaksin palsu valentine day van dame video vietnam wacana wahdah islamiyah walisongo wasilah wawasan wtc yahudi yaman yogya yogyakarta yordania yusril yusuf al qardawi yusuf mansur yuyuk andriati zaid royani zakat zulkifli hasan
false
ltr
item
Jurnalmuslim.com: Iman Itu Berdasarkan Ucapan Dan Perbuatan, Ia Bertambah Dan Berkurang
Iman Itu Berdasarkan Ucapan Dan Perbuatan, Ia Bertambah Dan Berkurang
http://4.bp.blogspot.com/-Jhw9VB6TehY/Tx8MKiqtz7I/AAAAAAAAAXI/XDB8gR71y7A/s200/iman+itu+bertambah+dan+berkurang.jpg
http://4.bp.blogspot.com/-Jhw9VB6TehY/Tx8MKiqtz7I/AAAAAAAAAXI/XDB8gR71y7A/s72-c/iman+itu+bertambah+dan+berkurang.jpg
Jurnalmuslim.com
http://www.jurnalmuslim.com/2012/01/iman-itu-berdasarkan-ucapan-dan.html
http://www.jurnalmuslim.com/
http://www.jurnalmuslim.com/
http://www.jurnalmuslim.com/2012/01/iman-itu-berdasarkan-ucapan-dan.html
true
3812561232547159440
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy