Bedah Pluralisme di Bandung

Bedah Pluralisme di Bandung Paham Pluralisme Agama merupakan proyek yang sangat mudah menyedot ...


Bedah Pluralisme di Bandung

Paham Pluralisme Agama merupakan proyek yang sangat mudah menyedot dana dari lembaga-lembaga asing yang bergelimang uang. Baca Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian Husaini ke-119

Senin, 17 Oktober 2005

Oleh: Adian Husaini


Pada 12 Oktober 2005, saya dengan Dr. Ugi Suharto, direktur eksekutif INSISTS, memberikan presentasi tentang Pluralisme Agama di empat lokasi di Bandung, yaitu di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Masjid Habiburrahman PT Dirgantara Indonesia, Masjid Ukhuwah, dan Masjid Salman Bandung. Ada beberapa masalah yang menarik untuk dicatat dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul pada acara itu.

Pertama, rata-rata kaum Muslim yang hadir dalam acara tersebut belum memahami dengan baik, apa sebenarnya ide Pluralisme Agama. Itu bisa disimak saat acara acara bedah buku Dr. Anis Malik Toha, yang berjudul Tren Pluralisme Agama, di UPI dan Masjid Salman Bandung. Karena itu, saat dipaparkan data-data dan teori tentang paham Pluralisme Agama, banyak yang mengaku sebagai hal baru bagi mereka.

Padahal, fatwa MUI sudah menjelaskan tentang definisi paham ini dengan lugas dan jelas. Yakni, menurut MUI, Pluralisme Agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah.

Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga. Paham seperti ini bertentangan dengan ajaran Islam dan karenanya haram bagi kaum Muslimin untuk menganutnya.

Kedua, banyak hadirin yang terbengong-bengong menyimak profil para penganjur paham Pluralisme Agama. Banyak diantaranya yang lulusan perguruan-perguruan Tinggi Islam, bahkan ada doktor dan prosefor dalam bidang studi Islam.

Di kalangan insinyur, mahasiswa bidang teknologi, dan para profesional yang hadir, sempat muncul pertanyaan, apa yang salah dengan orang-orang yang belajar agama sejak kecil itu?

Mengapa kemudian mereka justru malah merusak keimanan mereka sendiri, dengan menyebarkan paham yang salah, dan malah menyebarkan pemahaman itu kepada masyarakat luas? Apa mereka tidak takut dosa?



Masalah ini sudah pernah kita bahas pada catatan-catatan sebelumnya. Bisa jadi, mereka memang salah berpikir, salah didik, atau “salah asuh”, sehingga merasa benar dalam kekeliruannya.

Mereka kemudian lebih percaya kepada para orientalis dari kalangan non-Muslim dalam memandang ajaran Islam, ketimbang para ulama Islam yang ‘alim dan shalih. Allah sudah mengingatkan adanya fenomena semacam ini, yakni adanya manusia-manusia yang merasa telah bebuat sebaik-baiknya, padahal amal perbuatan mereka sesat. (QS 18:103-104).

Atau, bisa jadi juga, kekeliruan itu disebabkan karena para penyebar paham yang salah ini telah tergoda oleh hawa nafsu, dan dengan sengaja melepaskan pemahamannya terhadap kebenaran. Godaan dunia menjadi sebab utamanya.

Kebetulan, paham Pluralisme Agama merupakan proyek yang sangat mudah menyedot dana dari lembaga-lembaga asing yang bergelimang uang. Para penyebar paham ini seperti tidak peduli dengan kerusakan berpikir dan kerusakan iman yang disebabkan oleh paham Pluralisme Agama. Allah SWT berfirman:

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, maka syaitanpun menjadikan dia pengikutnya, lalu jadilah dia daripada orang-orang yang tersesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya maka dia menjulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya, dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (QS 7:175-176)

Ketidakpahaman dan kerancuan tentang makna paham ini ditambah lagi dengan terbitnya tulisan-tulisan, buku-buku, dan ucapan di media elektronik dari banyak orang yang sengaja atau tidak justru mengaburkan makna paham ini sebenarnya.

Belum lama ini, misalnya, ada sebuah buku yang terbit yang membahas tentang Pluralisme. Judulnya sangat indah: “Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam”. Penerbitnya adalah sebuah organisasi Islam dan Ford Foundation.

Di dalam buku ini kita bisa menyimak berbagai pemikiran pluralisme agama yang jelas-jelas bertentangan dengan keyakinan aqidah Islam. Misalnya paham relativisme iman. Seorang penulis dalam buku ini mengajukan tiga gagasan relativisme yang bisa dijadikan dasar penghormatan dan penghargaan atas yang lain. Pertama, relativisme kultural. Dalam konteks ini, katanya, Islam adalah agama yang hanya cocok dengan kebudayaannya sendiri. Maka, manifestasi Islam mestinya ditampilkan, dikemas dan dilakukan umatnya tanpa harus memaksa yang lain mengikutinya. (hal. 58).


Penulis ini sangat menekankan kentalnya budaya Arab pada ajaran Islam. Dari beberapa contoh ritual Islam, katanya, terlihat betapa kentalnya nuansa dan pengaruh kebudayaan Arab dalam ajaran Islam. “Hal ini mudah dimengerti, sebab wahyu Islam memang turun di Arab dan Pembawa Syariat juga seorang Arab. Dari sini bisa dikatakan bahwa Islam yang selama ini dipahami sebagai yang otentik atau orisinil tak lain adalah ekspresi lokalitas Arab tersendiri. Islam yang terbentuk di Semenanjung Arab adalah hasil dialektika dan pergulatan yang intensif antara Islam dan budaya lokal setempat.” (hal. 56).

Relativisme kedua yang diajukannya ialah relativisme epistemologis. Maksudnya, pada wilayah ini maka yang selayaknya menjadi pegangan adalah bahwa kita tidak dapat mengetahui kebenaran absolut. Kita dapat mengetahui kebenaran hanya sejauh itu absah bagi kita. Artinya, kebenaran yang selama ini kita pahami tak lain adalah kebenaran sepihak. (hal. 58).

Sedangkan relativisme ketiga ialah relativisme teleologis. Maksudnya, dalam konteks ini, maka Islam tak lain adalah satu jalan kebenaran diantara jalan-jalan kebenaran yang lain… Artinya jalan menuju kebenaran tidak selamanya dan musti harus melalui jalan ‘agama’, tapi juga bisa memakai medium yang lain. Karena sifatnya yang demikian maka Islam kemudian berdiri sejajar dengan praktik budaya yang ada. Tidak ada perbedaan yang signifikan kecuali hanya situalistik simbolistik. Sedangkan esensinya sama, yakni menuju kebenaran transendental. (hal. 58-59)

Paham relativisme seperti ini tentu saja menjadi masalah dalam konsep keimanan Islam yang menuntut taraf keyakinan dalam iman. Azyumardi Azra, dalam buku ini, juga mengungkap tentang konsep “Islams” (banyak Islam). Kata dia, Islam itu memang pluralis, Islam itu banyak, dan tidak satu. Kata Azra: “Memang secara teks Islam adalah satu tetapi ketika akal sudah mulai mencoba memahami itu, belum lagi mengaktualisasikan, maka kemudian pluralitas itu adalah suatu kenyataan dan tidak bisa dielakkan.” (hal. 150).

Azra menunjuk pada contoh perbedaan pemahaman di antara para imam mazhab dalam memahami Al-Quran dan hadits. Ia juga menegaskan bahwa Al-Quran sekalipun bisa disebut punya bias kultural. “Kenapa Al-Quran harus dengan berbahasa Arab, bukan berbahasa Indonesia, bahasa Jawa? Dan ketika Al-Quran itu di-frame, disampaikan kepada manusia, dalam hal ini orang Arab, maka ketika itulah kerangka cultural Arab juga masuk.” (hal. 150-151).

Rektor UIN Jakarta ini menekankan adanya faktor budaya, sosial, lingkungan, dan sebagainya, yang akan mempengaruhi cara berpikir seseorang, termasuk dalam cara memahami Al-Quran. “Karena itulah,” katanya, “ketika kita mencoba memahami Islam, maka memahami Al-Quran akan ada perbedaan pemahaman yang tidak bisa dielakkan.” (hal. 151)


Dengan pemahaman relativisme pemikiran seperti ini, maka seseorang dapat terjebak kepada pemikiran relatif, nisbi, dan tidak yakin kepada kebenaran. Jika begitu, maka tidak ada Islam yang satu. Yang ada adalah “Islams” atau “Islam-Islam”, Islam yang banyak. Semuanya tergantung pada lingkungan kultural dan cara berpikir. Kebenaran adalah relatif, menurut tiap orang. Konsekuensi cara berpikir semacam ini, maka tidak ada tafsir Al-Quran yang qath’iy; semuanya relatif. Semuanya nisbi. Dengan begitu, maka tidak ada Islam yang satu.

Benarkah cara berpikir relativisme semacam itu? Tentu saja tidak benar dan jelas-jelas salah. Cara berpikir relativisme ini muncul dari cara pandang yang salah, yang menyamakan antara Islam – sebagai agama wahyu—dengan agama-agama lain yang tumbuh dari kultur manusia.

Karena Islam adalah agama wahyu, maka tafsir dan pemahaman terhadap Islam dan al-Quran ada yang bersifat tetap (tsawabit) dan ada yang berubah (mutaghayyarat). Tafsir juga ada yang qath’iy dan ada yang zhanniy. Ada yang sama dan ada yang berbeda, tanpa pandang latar belakang kultural penafsir. Semua penafsir al-Quran akan sama dalam memahami dan menafsirkan ayat `Qul huwallaahu ahad`.

Bahwa, Allah adalah satu. Bukan tiga, atau tiga dalam satu. Semua mufassir akan memahami QS 2:183 sebagai dasar kewajiban menjalankan shaum Ramadhan. Bahwa, puasa Ramadhan adalah wajib. Semua mufassir – apa pun latar belakang kebangsaan dan budayanya – akan sama dalam memahami QS 60:10, bahwa seorang Muslimah memang haram menikah dengan laki-laki non-muslim. Para mufassir, baik dari Jawa maupun Rusia, akan sama dalam pemahamannya, bahwa ibadah haji harus dilakukan di Tanah Suci, bukan di Surabaya atau Moskwa.

Jadi, pemahaman bahwa Islam adalah banyak (Islams), adalah pemahaman yang keliru. Islam adalah satu. Syahadatnya satu, Al-Quran-nya satu, Nabi-nya satu, dan rukun iman dan rukun Islamnya satu. Di luar yang satu itu, tidak termasuk Islam. Jika ada orang yang mengaku Islam, tetapi tidak mengakui kewajiban shalat lima waktu atau menyatakan bahwa Al-Quran adalah karangan Nabi Muhammad saw, maka pendapatnya itu jelas-jelas pendapat kufur.

Karena itu, sepanjang sejarah Islam, masalah perbedaan kultural tidaklah dijadikan sebagai hal yang signifikan. Para mufassir dan ulama Islam dari berbagai belahan dunia memahami Al-Quran dengan cara yang sama untuk hal-hal yang pokok dalam Islam. Imam Bukhari bukanlah orang Arab, tetapi cara pemahamannya terhadap Islam sama dengan Imam Syafii yang Arab. Al-Quran sendiri menegaskan, bahwa Nabi Muhammad saw diutus untuk seluruh manusia, bukan untuk orang Arab saja.

Menyatakan bahwa Islam itu banyak, dengan contoh perbedaan fiqhiyyah di kalangan Imam Mazhab adalah contoh yang mengelirukan. Para Imam mazhab memang berbeda dalam hal furuiyyah, tetapi mereka tidak pernah berbeda tentang hal-hal yang pokok. Aqidah mereka sama.

Tidak ada yang meragukan otentisitas Al-Quran sebagai wahyu Allah. Tidak ada yang menyatakan bahwa haji bolah dikerjakan kapan saja. Tidak ada yang menyatakan, muslimah boleh menikah dengan laki-laki non-Muslim.

Karena itu, seharusnya, para cendekiawan berpikir dan bersikap jujur dalam menyampaikan pemikirannya. Jangan memutar balikkan fakta dan menjerumuskan masyarakat dalam pemikiran yang salah.

Kita sekali lagi mengingatkan, agar para cendekiawan yang mengelirukan umat Islam sadar dan bertobat. Sebab, tanggung jawab mereka sangat besar, di dunia dan akhirat. Mereka bukan hanya salah untuk dirinya sendiri, tetapi juga akan menanggung dosa orang-orang yang mengikuti pendapatnya.

Dengan contoh-contoh pendapat relativisme Islam tersebut, kita dapat menyimak, bagaimana maraknya paham ini disebarkan oleh para pakar dan orang-orang yang seharusnya memahami agama dengan baik.

Siti Musdah Mulia, dalam buku yang sama, juga menyatakan, bahwa interpretasi manusia atas wahyu menjadi kebenaran yang tidak mutlak atau nisbi belaka, sejalan dengan keterbatasannya sebagai manusia. (hal. 233).

Di sini kita lagi-lagi melihat, paham relativisme kebenaran menjadi landasan penyebaran paham Pluralisme Agama. Di dalam Al-Quran surat 16 :125, kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyeru manusia ke jalan Allah, dengan hikmah, mauidhatil hasanah, dan bermujadalah dengan cara yang lebih baik. Rasulullah saw juga banyak memerintahkan kepada kita agar melaksanakan amar makruf nahi munkar.

Sebelum menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka tentunya, syarat pertama adalah memahami mana jalan Allah, dan mana jalan setan; mana yang makruf dan mana yang munkar.

Jika Rasulullah saw dan para Wali Songo dulu menganut paham Pluralisme Agama, sudah tentu Islam tidak akan sampai ke Nusantara. Sebab, agama-agama yang sudah ada dianggap benar, dan tidak perlu menyebarkan Islam lagi. Padahal, faktanya tidaklah demikian. Nabi Muhammad saw memberi contoh, bagaimana gigihnya beliau menyeru umat manusia agar beriman kepada Allah Yang Ahad, dan beriman kepada kenabian dan kerasulannya. Wallahu a’lam. (Balikpapan, 14 Oktober 2005).

COMMENTS

Iklan Konten$show=post

loading...

Artikel Terbaru$type=three$author=hide$comment=hide$rm=hide$show=post$cate=2$count=9$pagination=5

Nama

'Umdatul Ahkam 25 november 4 nove 4 november aa gym aadc2 Abdul Chair Ramadhan abu bakar ashidiq aceh Adab ade armando ade komaruddin adik ahok administrasi adsense advertorial afrika aher ahmad baidhowi ahmad dhani ahmad zainuddin ahok ahok djarot ahok illuminati ahokers akhlak akmal sjafril aksi bela islam iii Al Hikmah al quran palsu al umm al washiliyah al-quran Alex Naddour alfian tanjung ali bin abi thalib ali jaber aliansi pemuda makassar aliran sesat allepo alwi shihab am fatwa amerika amien rais amir faishol fath amir hamzah an najah anis baswedan anis dan sandiaga anton medan anton tabah antv april Aqidah aqidah syiah arab saudi archandra ariana grande arief rahman arifin ilham arik banyadhu artikel ilmiah Artikel Ramadhan atmiwiloto australlia bab thoharoh bachtiar nasir backmasking badai pasir arab saudi balaraja band bandung bangka belitung bangkalan bangladesh banjar banjarmasjin bank banten banyuwangi barcelona bareskrim bashar asad bawaslu bbc beasiswa beasiswa iain antasari beasiswa kuwait beasiswa tahfidz beasiswa turki bedah buku syiah bekal dakwah bekam bekasi berita bid'ah bima arya bin bina qalam biografi bireun Bisnis Online bitung blog tutorial bmh bmh jatim bmh lumajang bnn bnpt bogor bom saudi bpi bpjs brebes britney spears brunei buddha budha bukit duri buku buku gratis Buletin bungkul buni yani burhan shodiq bus pendemo buya hamka buya yahya cadar cakung cangkul car free day cba Ceramah charlie hebdo china cholil nafis cholil ridwan cilacap cina colil ridhwan cut nyak din dahnil anzar darul hijrah dasrul Data Kesesatan Syi'ah dauroh ddi debat bahasa arab internasional mesir dede demo tolak ahok demonstrasi densus 88 depok detik didin hafidhuddin dimas kanjeng din syamsuddin dina y sulaeman djarot do'a donald frans donald trump Download dprd dr miftah el banjari dr tiar dr zakir naik Dr. Adian Husaini Dr. Ahmad Zain An-Najah dr. aidh al qarni dr. warsito dream dzan farid dzulhijjah emilia renita erdogan Esra Panese event facebook fadel muhammad fadl zon fahira idris fahri hamzah fakta fans celtic farid okbah fatih seferagic Featured felix siauw ferdinand hutahean ferihana filipina film Fiqih fiqih dakwah fiqih haji fiqih ihram fiqih jenazah fiqih jihad fiqih jual beli fiqih madzhab imam syaf'i fiqih nikah fiqih puasa fiqih qurban firanda andirja florida foto Foto-Foto kesesatan Syi'ah fpi freddy budiman gafatar gajah gallery gambar game online game pes garut gatot nurmantyo gaza gerhana matahari gerindra Gilbert Lumoindong globaltv golkar gontor google gp anshor gresik gubernur ntb guru gus manan gus sholah habib rizieq hacker Hadits hadyu hafidz quran haiti halal.ad ham hamdan zoelva hari pancasila Harits Abu Ulya hartoyo harvard hary tanoesoedibjo headline hidayat nur wahid hidayatullah hikmah hmi hollywood hukum seputar ta'ziyah husain syahid husni thamrin hut ri 71 ibadah ibnu khaldun ibu saeni ical idc ihw ikhsan modjo iklan ilc 8 november illuminati Ilmu Faroidh ilyas karim imam masjid al aqsa imamah imunisasi india indonesia indramayu inews info kajian inggris insan mokoginta inspiratif intermezo internasional ipb ipw irak iran irena handono irlandia Islamophobia islandia israel istanbul istiqlal istri ahok istri gus dur jabar jack ma jakarta jakut jamaah tabligh janet jackson jas jatim jawa barat jawa timur Jayawijaya Jeffry Winters jember jepang jerman jihad jihad internasional jil jilbab jk jokowi jokowi dan ahok jonru jpnn Kabar Muslim Burma 2012 kalbar kalimantan kammi kampung rambutan kanada Kapolda kapolri kapry nanda karawang kashmir kasih keluarga Kemendag kenan nabil kereta cepat kesehatan KH Ali Mustafa Ya'qub KH Hasyim Muzadi kh. abdur rasyid khairul anwar Khutbah jum'at Kiamat king abdul aziz king saudi university kiriman pembaca kisah kisah hikmah kisah para nabi kivlan zen kiwil knrp koko kolombia komnas ham komnas perempuan kompas kompastv komunis koneksi kopi jessica korea utara kotamabagu kpai kpk kpu kristen kristenisasi kristologi ktp kuba kuburan kuliner kurma iran kutab al fatih kyai nur labuhbatu Lain-lain lalu heru rojak lampung Laurence Rossignol lbh paham lenteng agung lgbt liberal Liberalisme Lieus sungkharisma lipia lira lomba lomba tahfidz lombok london luar batang lucky hakim Lucu luhut lukman hakim luthfi bashori ma'ruf amin mabuk madina madrasah madura magelang mahfud md Makalah Menarik Makalah Thoharoh makassar make money blog malang malaysia maluku manado mark zuckberg maroko marwah daud marzukie alie masjid nabawi mataram medan media mainstream megawati menag menakjubkan mendagri mengerikan menhan merdeka mesir metrotv minahasa miras mizanul muslim mnctv mpr ms kaban muallaf muda mudi mudik 2016 muhammad ali muhammad taufik muhammadiyah muharram muhasabah mui mukidi mukjizat mulyono munarman musa musik muslim uyghur muslimah Musthalahaat al-fuqaha’ wal ushuliyin Mustholahul Hadits Mustolahat Fil fiqh myanmar nabil narkoba nasi uduk babi nasyiatul aisyiyah natal new york nigeria niken taradina ntb nu nur tajib nusairiyah nusantara nushairiyah nushron wahid oemar mita oezil olahraga omran opini ozil padang Paham Sesat pajak pakistan palestina palu pamekasan pan Panduan Ibadah Qurban pangeran harry pangi syarwi chaniago papua paris pasar ikan patani pbnu pdip pekerja asing Pemerintah Indonesia pendeta cabul pendeta vatikan pendidikan penemu muslim pengungsi suriah penjaringan penyerangan polisi tangerang perda islam pers persis pesantren petisi pilkada dki jakarta pki pks Pluralisme pokemon polisi politik ponorogo pontianak poso pp muhammadiyah ppp prabowo prancis probolinggo Prof DR Abdul Hadi profil proxy war psq puisi punk purbalingga purworejo pushami pwnu qishash quraish shihab rachmawati rawajati rcti reklamasi retorika dakwah revenuehits Rezim Penguasa riau ridwan kamil rifkoh abriani rio haryanto risma Riyadh Badr Bajrey rizal ramli robithoh alam islami rohingya rokok ronaldo rudal jokowi ruhut rumah tangga rusia Sahabat sahabat nabi said aqil sains salafy indonesia salib mampang salibis salim a. fillah samarinda sambudi sampang sandiago uno santoso santri sayidiman suryohadiprojo sby sd cilegon Sejarah sekjen pbb sekte dan aliran Sekularisme selandia sepak bola Shahnaz Laghari shalawat badar shalawat nabi shared2earn sidoarjo simposium anti pki siroh siyono skotlandia Slank sma soekarno solo spanyol spbu sragen stand up comedy stevanus stiba makassar subang sudan sukabumi sukmawati sulawesi sulteng sumbar sumedang sumsel sumut surabaya suriah surya prabowo susanto swedia syafii maarif syaikh sudais Syarh 'Umdatul Ahkam Syarh Matan Thawiyah syariat islam syarifah salsabila Syiah syiah mencela nabi muhammad syiah mencela sahabat syiah menghina muawiyah syiah mengkafirkan aisyah syiah mengkafirkan asyariyah syiah mengkafirkan sahabat syiah suriah syiah takfiri syirik syubhat pengagung kubur Syubhat Sejarah Rosululloh SAW Tabi'in Tabi'ut Tabi'in Tafsir tafsir al maidah tahukah? takbir keliling tangerang tanjungbalai tawasul Tax Amnesty Tazkiyyatunnafs tebet tebingtinggi teknologi tema ceramah tema dakwah teman ahok tempelate blog tempo tengger Tengku Erry Nuradi terbaru tere liye Terjemahan kitab Musthalahaat al-fuqaha’ wal ushuliyin terompet dari sampul al quran teroris teroris separatis terorisme terorisme medan teuku nasrullah teungku zulkarnain thailand thibun nabawi timor leste tionghoa tiongkok Tips tki tni tni au keroyok jamaah masjid trans7 Tsaqofah tuban tulisan turki tutorial tvone tvri uea ui uighur uika bogor uim uin ulil ullcok Ulumul Quran umroh gratis unas unesco Unik universitas islam madinah universitas paramadina unj Ushulul Fiqh ust. budi ashari ust. zaitun rasmin ust. zulkifli vaksin palsu valentine day van dame video vietnam wacana wahdah islamiyah walisongo wasilah wawasan wtc yahudi yaman yogya yogyakarta yordania yusril yusuf al qardawi yusuf mansur yuyuk andriati zaid royani zakat zulkifli hasan
false
ltr
item
Jurnalmuslim.com: Bedah Pluralisme di Bandung
Bedah Pluralisme di Bandung
http://3.bp.blogspot.com/-t8y8k_0V_Pw/TxSyl11qcRI/AAAAAAAAAUY/F3mFPhG7jYQ/s200/islam__pluralisme.jpg
http://3.bp.blogspot.com/-t8y8k_0V_Pw/TxSyl11qcRI/AAAAAAAAAUY/F3mFPhG7jYQ/s72-c/islam__pluralisme.jpg
Jurnalmuslim.com
http://www.jurnalmuslim.com/2012/01/bedah-pluralisme-di-bandung.html
http://www.jurnalmuslim.com/
http://www.jurnalmuslim.com/
http://www.jurnalmuslim.com/2012/01/bedah-pluralisme-di-bandung.html
true
3812561232547159440
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy